IHSG Ditutup Anjlok Setelah Reshuflle Kabinet, Nyaris ke Level 5.900

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:44 WIB
Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). [ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/bar]
BACA 10 DETIK
  • Presiden Prabowo Subianto melakukan perombakan kabinet pada Kamis, 1 Oktober 2026.
  • IHSG ditutup ambruk ke level 6.009 karena ketidakpastian kebijakan pemerintah dan tekanan jual asing.
  • Analis menyatakan perombakan kabinet memicu volatilitas jangka pendek yang direspons negatif oleh pasar modal.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir ambruk, setelah Presiden Prabowo Subianto melakukan perombakan atau reshuffle kabinet pada, Kamis, 1 Oktober 2026. IHSG ditutup ke level 6.009 turun 61,64 poin atau 1,02 persen. 

Selama perdagangan hari ini, IHSG selalu berada di zona merah. Bahkan IHSG sempat menghuni level 5.973 pada perdagangan hari ini. 

Mengutip data Stockbit, dalam perdagangan hari ini, sebanyak 32,94 miliar saham diperdagangkan, dengan nilai Rp11,07 triliun, serta 1,59 juta kali.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji, menyebut reshuffle kabinet Prabowo menjadi salah satu sentimen pelemahan IHSG hari ini. 

Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. [ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj]

"Dari sisi domestik, pasar merespons perkembangan reshuffle kabinet yang kembali memunculkan uncertainty terkait arah kebijakan pemerintah ke depan. Selain itu, tekanan jual investor asing masih menjadi faktor utama, mengingat pada perdagangan sebelumnya asing mencatat net sell sekitar Rp1,56 triliun di pasar reguler," ujar Nafan.

Tekanan terhadap IHSG juga tidak terlepas dari kinerja pasar pada September 2026. Secara kumulatif, IHSG telah melewati periode September dengan koreksi sekitar 7,95 persen.

Kondisi tersebut membuat sentimen pasar masih cenderung rapuh. Dari eksternal, investor juga masih menghadapi level yield US Treasury yang relatif tinggi, tekanan terhadap rupiah, serta ketidakpastian geopolitik.

Menurut Nafan, perkembangan reshuffle kabinet juga menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati pasar.

Dampaknya terhadap pasar modal sangat bergantung pada persepsi investor terhadap figur yang ditunjuk serta kontinuitas kebijakan ekonomi pemerintah.

Dalam jangka pendek, reshuffle dapat meningkatkan volatilitas karena pasar perlu menilai kembali arah kebijakan, koordinasi antarkementerian, serta implikasinya terhadap program fiskal dan ekonomi.

Namun, apabila perubahan tersebut dipersepsikan mampu memperkuat efektivitas pemerintahan, menjaga kesinambungan kebijakan, serta memberikan kepastian terhadap agenda reformasi dan investasi, dampaknya dapat menjadi lebih konstruktif dalam jangka menengah.

"Karena itu, pasar saat ini kemungkinan lebih membutuhkan policy clarity dibanding sekadar perubahan komposisi kabinet. Perkembangan reshuffle hari ini sendiri menunjukkan bahwa pasar langsung merespons perubahan tersebut, meskipun perlu dibedakan antara reaksi awal dan dampak fundamentalnya," pungkas Nafan.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com