- Nilai tukar rupiah dibuka menguat 19 poin ke level Rp17.947 per dolar AS pada Jumat, 2 Oktober 2026.
- Penguatan rupiah terjadi akibat penurunan imbal hasil obligasi yang membuat dolar AS mengalami koreksi di pasar.
- Harga minyak mentah dunia yang naik akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah berpotensi kembali menekan rupiah.
Suara.com - Nilai tukar rupiah berbalik menguat terhadap dolar AS pada awal perdagangan, Jumat 2 Oktober 2026.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka ke level Rp17.947 per dolar AS, menguat 19 poin atau naik 0,11 persen dibandingkan penutupan sebelumnya Rp17.966.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan penguatan rupiah ini setelah imbal hasil atau yield obligasi anjlok, sehingga mendorong dolar AS meloyo.
"Dolar AS memang sedikit terkoreksi, dan imbal hasil obligasi turun cukup besar semalam. Hal ini membuat rupiah menguat," katanya saat dihubungi Suara.com.
Namun, rupiah diperkirakan masih tertekan terhadap dolar AS seiring kenaikan kembali harga minyak mentah dunia. Lantaran meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah bisa saja menekan mata uang Garufa.
"Hal ini menyusul pengerahan kapal induk ketiga oleh AS serta sinyal kemungkinan berlanjutnya serangan udara terhadap Iran. Range rupiah Rp17.900-Rp18.000,"jelasnya.
Sementara itu, mayoritas mata uang Asia bervariasi. Rinciannya, dolar Taiwan paling kuat di Asia dengan menanjak 0,28 persen. Lalu peso Filipina menguat 23 persen, diikuti yen Jepang naik 0,11 persen.
Selain itu, baht Thailand menguat tipis 0,04 persen. Sedangkan, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam 0,06 persen dan ringgit Malaysia turun tipis 0,01 persen.