Harga BBM Indonesia vs ASEAN: RON 92 Rp15.950, Singapura Tembus Rp48.514 per Liter

Senin, 05 Oktober 2026 | 13:30 WIB
Harga BBM jenis RON 92 di Indonesia dibanderol Rp15.950 per liter dianggap lebih terjangkau dibanding negara-negara lain di ASEAN. [Antara]
BACA 10 DETIK
  • Direktur Pertamina Patra Niaga Joko Pranoto menyatakan harga BBM non-subsidi dan avtur di Indonesia lebih kompetitif dibandingkan negara ASEAN dalam rapat Kemendagri, Senin (5/10/2026).
  • Data per 1 Oktober 2026 menunjukkan harga BBM RON 92 dan avtur di Indonesia jauh lebih terjangkau daripada Singapura, Thailand, Filipina, Malaysia, Vietnam, dan Australia.
  • Pertamina bersama pemerintah menahan harga jual ritel tetap sama pada periode September hingga Oktober 2026 meskipun terjadi kenaikan harga minyak global akibat konflik geopolitik Timur Tengah.

Suara.com - Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga, Joko Pranoto, menyatakan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi serta avtur di Indonesia masih jauh lebih kompetitif jika dibandingkan dengan sejumlah negara di kawasan ASEAN dan sekitarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Joko dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 bersama Kementerian Dalam Negeri, Senin (5/10/2026).

Berdasarkan data per 1 Oktober 2026, harga BBM jenis RON 92 di Indonesia dibanderol Rp15.950 per liter. Angka tersebut jauh lebih terjangkau dibandingkan Singapura yang mencapai Rp48.514 per liter, Thailand Rp21.213 per liter, dan Filipina Rp25.014 per liter.

Selain BBM RON 92, harga avtur di Indonesia juga tercatat bersaing ketat dengan negara-negara lain. Berdasarkan data per 1 Oktober 2026, harga avtur di Indonesia dipatok Rp20.190 per liter.

Sebagai perbandingan, harga avtur di Singapura tercatat Rp44.202 per liter (21 September 2026), Thailand Rp33.377 per liter (24 September 2026), Malaysia Rp46.006 per liter (1 Oktober 2026), Vietnam Rp20.619 per liter (24 September 2026), serta Australia Rp28.950 per liter (23 September 2026).

Joko menjelaskan bahwa pergerakan harga BBM non-subsidi atau Jenis Bahan Bakar Umum (JBU) dan avtur sempat mengalami kenaikan signifikan sejak akhir Februari 2026 akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

Ilustrasi logo Petronas. [Antara]

Kendati demikian, pemerintah dan Pertamina menahan harga jual ritel tersebut agar tetap sama pada periode September hingga Oktober 2026.

"JBU ini jenis bahan bakar umum yang non-subsidi, karena yang bahan bakar subsidi sudah diputuskan oleh pemerintah, harganya tidak ada perubahan sampai nanti dengan akhir tahun," ujar Joko.

Ia menambahkan, meski tren kenaikan harga minyak global pada 2026 cukup tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, pemerintah terus berupaya menekan harga agar tidak sepenuhnya mengikuti fluktuasi pasar dunia.

"Sebenarnya in overall masih sangat kompetitif dibandingkan negara-negara yang lain, bisa dilihat datanya. Harga terakhir September ataupun sudah ada yang kita dapatkan update per 1 Oktober itu hampir semua bahan bakar JBU maupun avtur kita masih sangat bersaing dengan negara-negara sekitar," ungkapnya.

Selain itu, Joko juga menyoroti bahwa perbedaan harga energi antaranegara turut dipengaruhi oleh komponen pajak (tax).

Sejumlah negara menyiasati kenaikan harga minyak global melalui mekanisme pengurangan pajak, sementara Indonesia tetap menjaga stabilitas harga agar terjangkau bagi masyarakat.

"Makanya terlihat di beberapa negara bagaimana negara-negara yang lain itu mengontrol kenaikan harga walaupun ujungnya juga masih relatif tinggi itu dengan mekanisme tax reduction," pungkasnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com