- Pertamina Foundation, UGM, dan DLHK DIY mengembangkan Hutan Lestari Wanaboga Nangka seluas 87 hektare di Gunungkidul.
- Program ini melibatkan 400 petani lokal untuk memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi melalui penanaman pohon nangka.
- Pengelolaan lahan kering karst menggunakan sistem tumpangsari dan pengairan berbasis energi bersih untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Suara.com - Petani kini bisa menyulap lahan karst Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang cenderung kering saat musim kemarau menjadi kawasan hutan pangan.
Melalui program Hutan Lestari Wanaboga Nangka, Pertamina melalui Pertamina Foundation bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY mengembangkan kawasan hutan seluas 87 hektare di Petak 58 RPH Candi, BDH Karangmojo, Kalurahan Jatiayu, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul.
Pengembangan kawasan tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat desa. Kawasan hutan dikembangkan melalui penanaman pohon nangka yang dapat menjadi sumber bahan baku nangka muda atau gori bagi industri kuliner gudeg Yogyakarta.
Namun, pengembangan kawasan pangan di Gunungkidul memiliki tantangan tersendiri. Kondisi lahan karst yang cenderung kering pada musim kemarau membuat pengelolaan pertanian membutuhkan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan.
Untuk memperkuat keberlanjutan pertanian, program tersebut dikembangkan melalui sistem tumpangsari serta dukungan pengairan berbasis energi bersih.
Dengan pendekatan tersebut, kawasan hutan pangan diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan komoditas pangan, tetapi juga tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Komisaris PT Pertamina (Persero), Nanik S. Deyang, mengatakan keterlibatan Pertamina melalui program yang dilaksanakan Pertamina Foundation merupakan bentuk kepedulian dunia usaha dalam mendukung ketahanan pangan nasional, di samping menjaga ketahanan energi.
"Pemanfaatan lahan di Gunungkidul ini adalah bagian nyata dari program ketahanan pangan," ujar Nanik seperti dikutip, Selasa (6/10/2026).
Pengembangan kawasan hutan tersebut tidak hanya diarahkan sebagai sumber bahan pangan. Dalam jangka panjang, kawasan ini juga ditargetkan berkembang menjadi lumbung pangan sekaligus sumber bahan baku kuliner dan kawasan eduwisata.
Pengelolaannya melibatkan Kelompok Tani Hutan Lestari Wanaboga Nangka yang beranggotakan sekitar 400 petani lokal.
Perwakilan Kelompok Tani Hutan Lestari Wanaboga Nangka, Ngatimin, mengapresiasi dukungan berkelanjutan yang diberikan melalui program tersebut.
Menurutnya, kelompok tani telah melakukan sedikitnya tiga kali panen dan berharap pendampingan peningkatan kapasitas sumber daya manusia terus berlanjut agar hasil kebun dapat dikembangkan menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah.
Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita, mengatakan Pertamina ingin memastikan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) memberikan dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat.
"Melalui kolaborasi Hutan Lestari Wanaboga Nangka ini, kami ingin memastikan adanya transparansi dampak sosial-ekonomi yang tercipta, mulai dari kedaulatan pangan, kemandirian ekonomi petani, hingga pelestarian ekosistem lingkungan secara konsisten," kata Arya.
Penggunaan dukungan pengairan berbasis energi bersih menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pengembangan kawasan di tengah karakter lahan Gunungkidul.
Selain memperkuat produksi pangan, pendekatan tersebut diharapkan dapat menjaga kawasan hutan tetap lestari sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Direktur Penunjang Bisnis PT Pertamina (Persero), M. Erry Sugiharto, menambahkan bahwa pengembangan produk pangan berbasis potensi lokal juga dapat menjadi bagian dari hilirisasi.
"Hilirisasi tidak hanya milik sektor pertambangan, tetapi bisa kita mulai dari sebatang pohon nangka untuk mendukung swasembada pangan serta harmoni lingkungan," pungkas Erry.