- Rupiah dibuka menguat tipis ke level Rp17.911 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026.
- Penguatan nilai tukar rupiah tersebut dipicu oleh sentimen global akibat penurunan data sektor manufaktur Amerika Serikat.
- Pergerakan rupiah diperkirakan terbatas karena investor menunggu rilis data ekonomi domestik terbaru pekan ini.
Suara.com - Rupiah berbalik menguat tipis pada Selasa 6 Oktober 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka ke level Rp17.911 per dolar AS.
Angka ini menguat tipis 5 poin atau naik 0,06 persen dibandingkan penutupan sebelumnya Rp17.917.
Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, penguatan ini dipengaruhi oleh sentimen global. Salah satunya dolar AS melemah imbas data manufaktur yang menurun
"Rupiah menguat terhadap dolar AS yang terkoreksi setelah data manufaktur AS yang lebih lemah," katanya saat dihubungi Suara.com.
Namun, penguatan diperkirakan terbatas oleh masih tingginya imbal hasil obligasi AS dan minyak mentah dunia. Investor juga masih wait and see menantikan rilis data ekonomi domestik pekan ini yang diantaranya Cadangan Devisa.
"Investor juga masih wait and see menantikan rilis data ekonomi domestik pekan ini yang diantaranya Cadangan Devisa lalu data kepercayaan konsumen dan penjualan ritel. Range rupiah di kisaran Rp17.850-Rp17.950," jelasnya.
Sementara itu, pergerakan mata uang di Asia bervariasi. Di mana, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,09 persen.
Selanjutnya, ada yen Jepang yang menanjak 0,01 persen dan ringgit Malaysia menguat tipis 0,007 persen terhadap the greenback. Sedangkan, peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,26 persen.
Lalu, won Korea Selatan ambles 0,17 persen dan baht Thailand terkoreksi 0,01 persen. Disusul, dolar Singapura turun 0,008 persen. Kemudian dolar Hong Kong terlihat bergerak tipis dengan kecenderungan melemah 0,006 persen di pagi ini.