- Nilai tukar rupiah menguat tipis ke level Rp17.899 per dolar AS pada Selasa, 6 Oktober 2026.
- Penguatan rupiah didorong oleh tekanan pada dolar AS dan imbal hasil obligasi menjelang risalah FOMC.
- Pergerakan mata uang di kawasan Asia bervariasi dengan baht Thailand mencatatkan kenaikan tertinggi.
Suara.com - Rupiah ditutup menguat pada Selasa 6 Oktober 2026 di pasar keuangan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup ke level Rp17.899 per dolar Amerika Serikat (AS).
Angka ini menguat tipis 18 poin atau naik 0,10 persen dibandingkan penutupan sebelumnya Rp17.917. Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan penguatan disebabkan dolar AS mengalami tekanan.
"Rupiah ditutup menguat tipis terhadap dolar AS. Penguatan ini didukung oleh koreksi pada dolar AS dan yield treasury menjelang risalah pertemuan FOMC (FOMC minutes)," katanya saat dihubungi Suara.com.
Dia mengatakan, saat investor mengantisipasi keputusan Bank Sentral AS yang akan segera mengumumkan suku bunga The Fed. Tentunya, ini akan memberikan sentimen terhadap rupiah dalam sepekan nanti.
"Investor mencermati the Fed menyusul serangkaian data ekonomi AS yang lebih lemah. Dari domestik, investor juga masih cenderung wait and see menantikan data-data ekonomi penting Indonesia yang akan dirilis pekan ini," jelasnya.
Sementara itu, pergerakan mata uang di Asia bervariasi. Di mana, baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melesat 0,14 persen.
Lalu, won Korea Selatan yang menanjak 0,09 persen dan dolar Singapura terkerek 0,06 persen. Disusul, ringgit Malaysia menguat tipis 0,01 persen.
Sedangkan, peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah ditutup anjlok 0,22 persen.
Diikuti Jepang tertekan 0,16 persen dan rupee India terkoreksi 0,13 persen. Lalu ada dolar Taiwan yang ditutup turun 0,05 persen. Kemudian, dolar Hong Kong yang m