Survei Kadin: Pengusaha Butuh Kepastian Kebijakan Pemerintah Prabowo Subianto

Selasa, 06 Oktober 2026 | 17:05 WIB
Survei Kadin menemukan ketidakpastian kebijakan ekonomi dan pelemahan nilai tukar rupiah menjadi tantangan utama bagi para pelaku usaha di Indonesia. [Shutterstock]
BACA 10 DETIK
  • Survei Kadin menemukan bahwa kebijakan pemerintah pusat sangat penting bagi kelangsungan bisnis.
  • Ketidakpastian kebijakan ekonomi dan pelemahan nilai tukar rupiah menjadi tantangan utama bagi para pelaku usaha di Indonesia.
  • Perusahaan mikro menghadapi kendala akses keuangan, sementara perusahaan besar terkendala oleh masalah birokrasi serta ketidakpastian hukum yang berlaku.

Suara.com - Kepastian kebijakan pemerintah pusat menjadi salah satu faktor utama yang diharapkan pelaku usaha dapat menopang perbaikan kondisi bisnis mereka pada 2026, demikian salah satu hasil survei Kadin Indonesia.

Direktur Insight di Kadin Indonesia Institute Fakhrul Fulvian dalam webinar Institut Kadin Indonesia bersama APF Kanada di Jakarta, Selasa (6/10/2026), mengatakan kebijakan pemerintah pusat berdampak penting tidak saja bagi perusahaan besar, tapi juga bagi bisnis kecil dan menengah.

“Kami bertanya, apa yang membuat Anda percaya bahwa kondisi bisnis akan berkembang di bulan berikutnya, di kuartal ketiga tahun 2026, jawabannya kebanyakan dari mereka percaya bahwa kebijakan pemerintah sentral menjadi hal yang paling penting,” kata Fakhrul.

Pada kuartal kedua 2026, sebanyak 16,4 persen responden pelaku bisnis mengatakan, permasalahan pengembangan bisnis masih ada pada birokrasi, diikuti dengan pengaruh kebijakan dan program pemerintahan sebesar 14,8 persen dan tantangan permintaan pasar (demand).

Sementara bagi perusahaan besar pengaruh perkembangan usaha mereka bergantung pada kolaborasi dan investasi dari internasional dengan melihat tren pasar global sebagai acuan pengembangan bisnis.

Fakhrul mengatakan, 33,7 persen responden juga menanggapi bahwa arah kebijakan ekonomi dari pemerintah yang tidak pasti menentukan risiko kebijakan bisnis yang akan dihadapi, diikuti oleh pelemahan permintaan domestik, dan pentingnya stabilitas rupiah dalam mengembalikan kepercayaan bisnis dan pelanggan.

“Pelemahan nilai tukar rupiah masih menjadi tantangan bagi pelaku usaha. Sebanyak 35 persen responden menilai depresiasi rupiah berdampak agak negatif terhadap bisnis, sementara 30 persen menilainya negatif,” kata Fakhrul.

Tantangan lainnya adalah akses keuangan. Bagi perusahaan mikro, akses keuangan menjadi persoalan utama dengan porsi 23,9 persen. Sementara bagi usaha kecil dan menengah, perkembangan pasar menjadi perhatian penting, terutama peluang untuk masuk ke pasar baru.

“Dan masalah utama untuk perusahaan besar adalah terdominasi oleh legal uncertainty (ketidakpastian hukum) dan birokrasi,” katanya.

Dengan berbagai tantangan yang dihadapi pelaku bisnis saat ini, survei memperkirakan dalam 6-12 bulan ke depan ada peningkatan masalah biaya operasional, tekanan terhadap margin keuntungan serta kenaikan biaya bahan baku impor.

Fakhrul mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya dukungan kebijakan yang mampu menjaga kepastian usaha sekaligus memperluas akses pasar dan pembiayaan bagi pelaku usaha.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com