Impor Tumbuh Tinggi Harus Dimanfaatkan untuk Tingkatkan Produktivitas dan Ekspor

Kamis, 01 Oktober 2026 | 17:19 WIB
Kadin mencatat impor Indonesia periode Januari hingga Juli 2026 melonjak 19,94 persen untuk mendukung produksi dan investasi. [Freepik]
BACA 10 DETIK
  • Kadin mencatat impor Indonesia periode Januari hingga Juli 2026 melonjak 19,94 persen untuk mendukung produksi dan investasi.
  • Saleh Husin meminta pemerintah memastikan pertumbuhan impor tersebut dikonversi secara optimal untuk meningkatkan produktivitas serta ekspor nasional.
  • Pemerintah didorong memprioritaskan daya saing energi, ketersediaan bahan baku, dan hilirisasi guna memperkuat sektor manufaktur bernilai tambah tinggi.

Suara.com - Meningkatnya impor pada 2026 menunjukkan penguatakan aktivitas produksi dan investasi di Indonesia. Meski demikian pemerintah diminta untuk menjaga agar peningkatan impor ini bisa dimanfaatkan dengan baik agar menjelma menjadi peningkatan produktivitas dan ekspor di masa depan.

"Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan impor tersebut dikonversikan menjadi peningkatan produksi dan ekspor, sehingga surplus perdagangan tetap terjaga," kata Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia atau Kadin bidang perindustrian Saleh Husin di Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Berdasarkan data Kadin, pada periode Januari–Juli 2026, ekspor tumbuh 4,43 persen, sementara impor tumbuh jauh lebih tinggi 19,94 persen.

Menurut Saleh, kenaikan kenaikan impor lebih banyak menunjukkan penguatan aktivitas produksi dan investasi, karena 91,33 persen impor Januari–Juli terdiri dari bahan baku/penolong dan barang modal.

Namun ia mengatakan pertumbuhan impor yang jauh lebih cepat daripada ekspor tetap perlu diwaspadai. Bagi Kadin, indikator pentingnya bukan sekadar kenaikan impor, tetapi apakah impor tersebut menghasilkan peningkatan kapasitas produksi, produktivitas, dan ekspor industri.

Lebih lanjut Saleh mendorong pemerintah untuk memastikan bahwa impor yang dilakukan lebih produktif diikuti investasi, peningkatan kapasitas dan produktivitas industri, serta ekspansi pasar ekspor.

Yang harus menjadi prioritas adalah menjaga daya saing biaya energi dan logistik, menjamin ketersediaan bahan baku, memperkuat industri intermediate/domestic supply chain, memberikan kepastian regulasi, memperluas akses pasar, dan mendorong hilirisasi.

Saat ini sektor yang memiliki peluang ekspor besar masih didominasi oleh industri pengolahan bernilai tambah, khususnya makanan-minuman dan agroindustri, logam dan hilirisasi mineral, elektronika/mesin, serta otomotif dan komponennya.

Sementara itu, industri padat karya seperti tekstil, pakaian jadi, alas kaki dan furnitur masih menghadapi tantangan biaya produksi, produktivitas, teknologi, dan persaingan global.

Ia mengatakan fokus perlu bergeser dari ekspor berbasis komoditas menuju produk manufaktur dengan nilai tambah dan kandungan domestik yang lebih tinggi.

"Dengan demikian, impor hari ini tidak berhenti sebagai pengeluaran devisa, tetapi menjadi kapasitas produksi dan ekspor Indonesia di masa depan," tutup Saleh.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com