- Nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis ke level Rp17.887 per dolar AS pada Rabu, 7 Oktober 2026.
- Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menyatakan penguatan terjadi karena investor menunggu hasil pertemuan FOMC.
- Sebagian besar mata uang Asia mengalami pelemahan sementara rupiah tetap mencatatkan penguatan di pasar regional.
Suara.com - Nilai tukar rupiah masih perkasa hingga akhir perdagangan, Rabu, 7 Oktober 2026. Bahkan, mata uang garuda satu-satunya nilai tukar yang menguat di Asia.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup ke level Rp17.887 per dolar, menguat 12 poin atau naik 0,07 persen.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan penguatan dikarenakan investor menunggu hasil pertemuan Federal Open Market Commite (FOMC).
"Rupiah ditutup menguat tipis terhadap dolar AS, dengan investor cendrung wait and see menantikan risalah pertemuan Federal Open Market Commite (FOMC) malam ini," ujarnya saat dihubungi Suara.com.
Lukman meminta, investor perlu mewaspadai data cadangan devisa yang menunjukkan sedikit penurunan bisa memberikan sentimen terhadap rupiah. Untuk itu, penguatan mata uang Garuda masih akan bersifat terbatas pada esok hari.
"Untuk besok rupiah akan tergantung pada pernyataan the Fed dalam risalah, seberapa hawksih atau dovish," jelasnya.
Sementara itu, mata uang Asia mayoritas melemah. Hanya peso Filipina yang menguat 0,3 persen dan yuan China naik tipis 0,02 persen.
Sedangkan rupee India menjadi mata uang paling lemah dengan merosot 0,40 persen. Diikuti oleh dolar Taiwan anjlok 0,30 persen.
Lalu ada baht Thailand yang turun 0,23 persen. Disusul oleh dolar Singapura melemah 0,16 persen dan ringgit Malaysia turun tipis 0,03 persen.