Kabar Baik Buat Peternak, Ada Wacana Pemberian Subsidi Pakan Ternak

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:00 WIB
Menteri Perdagangan Budi Susanto memiliki wacana untuk pemberian subsidi pakan ternak kepada peternak imbas kenaikan harga. [Suara.com/Fakhri Fuadi Muflih].
BACA 10 DETIK
  • Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan kenaikan harga minyak memicu lonjakan biaya pakan ternak di Indonesia.
  • Pemerintah membahas opsi pemberian subsidi agar biaya produksi tetap terjangkau.
  • Pemerintah berupaya menyeimbangkan harga telur agar peternak tidak merugi sekaligus melindungi daya beli masyarakat.

Suara.com - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso buka suara soal keluhan para peternak mengenai naiknya harga pakan belakangan ini. Kondisi ini dianggap menyulitkan karena biaya produksi jadi melonjak.

Menurut Budi, kenaikan harga pakan ini juga merupakan dampak dari melambungnya harga minyak. 

Ia menyebut pemerintah sedang membahas kemungkinan memberikan subsidi pakan atau langkah lain untuk membantu peternak menghadapi kenaikan biaya tersebut.

"Ya kalau dari harga, ya salah satu faktornya memang sekarang karena harga minyak tinggi dan sebagainya. Tetapi kan kemarin kami juga sudah sampaikan bagaimana mengatasi ini, apakah nanti akan ada subsidi atau bagaimana," ujar Budi saat ditemui usai pembukaan Bulan Literasi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) Tahun 2026 di Jakarta, Kamis (8/10/2026).

Ilustrasi Peternak (Foto SIG).

"Jadi kami memang belum ketemu lagi, tetapi pemerintah akan mengambil langkah agar harga itu terjangkau oleh petani," sambungnya.

Budi mengatakan pemerintah masih berkomunikasi untuk mencari solusi terkait persoalan harga pakan. Menurut dia, kebijakan tersebut perlu disiapkan agar biaya yang ditanggung peternak tetap terjangkau.

"Ya kita sekarang lagi komunikasikan, kita akan cari solusinya. Kalau itu kan yang kedelai untuk makan ya, kalau ini kan khusus untuk pakan," ujarnya.

Sebelumnya, Budi menjelaskan harga telur ayam ras saat ini berada di kisaran Rp26.800 secara nasional. Harga tersebut sudah mendekati harga acuan sebesar Rp30.000.

Menurut Budi, pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara kepentingan peternak dan konsumen. Harga telur yang terlalu rendah dapat membuat peternak kesulitan menutup biaya produksi, sedangkan harga yang terlalu tinggi akan membebani masyarakat.

"Jangan sampai harga terlalu rendah nanti peternak tutup. Kalau peternak tutup ya telur enggak ada, justru telur langka dan telur menjadi mahal. Tetapi kita juga hitung berapa harga pasnya, jangan sampai juga konsumen terbebani," kata Budi.

Budi mengatakan harga acuan telur sebesar Rp30.000 telah ditetapkan sejak Juni 2024. Harga tersebut dihitung dengan mempertimbangkan biaya produksi, distribusi, serta daya beli masyarakat.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com