- Pemkab Situbondo dan Serang menginisiasi program Anyer–Panarukan 3R guna menyelamatkan UMKM Pantura dari sepinya pembeli akibat Tol Trans Jawa.
- Program ini mengintegrasikan pelestarian sejarah Jalan Raya Pos dengan pengembangan pariwisata, budaya, kuliner, dan produk ekonomi lokal.
- Tindak lanjut program mencakup ekspedisi pemetaan potensi wilayah, penguatan jejaring UMKM, serta kolaborasi antardaerah di sepanjang jalur tersebut.
Suara.com - Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa sempat merasakan sepinya pembeli setelah hadirnya Tol Trans Jawa. Pasalnya, terjadi perubahan pola perjalanan masyarakat dari jalur Pantura menuju Trans Jawa.
Maka dari itu, pemerintah daerah (pemda) mulai mencari cara agar pelaku UMKM tidak gulung tikar, akibat kehadiran infrastruktur tersebut.
Salah satunya, dengan program Anyer–Panarukan 3R (Road, Route, Roots) yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten Situbondo bersama Pemerintah Kabupaten Serang, Banten. Program tersebut menghubungkan pelestarian sejarah Jalan Raya Pos dengan pengembangan potensi pariwisata, budaya, dan ekonomi masyarakat di sepanjang jalurnya.
Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengatakan, pengembangan jalur Anyer–Panarukan perlu diarahkan tidak hanya untuk menjaga eksistensi sejarah, tetapi juga memastikan aktivitas ekonomi masyarakat di sepanjang jalur tersebut terus berkembang.
"Tidak hanya sebagai Anyer–Panarukan sebagai eksistensi sejarah, tapi bagaimana masa depan itu juga dijaga. Jalan Anyer–Panarukan itu tumbuh dengan UMKM. Banyak pedagang, kehidupan ekonomi bisnis tumbuh di sana," ujar Rio seperti dikutip, Senin (12/10/2026).
Menurutnya, keberadaan Tol Trans Jawa menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam upaya mengembangkan kembali potensi ekonomi di jalur lama. Karena itu, pemerintah daerah ingin menyiapkan daya tarik yang dapat mendorong masyarakat tetap beraktivitas dan berkunjung ke kawasan tersebut.
"Meskipun sudah ada tol sekarang, tapi saya yakin banyak pengguna jalan yang, apalagi Situbondo itu orang mau ke Bali pasti lewat jalan Anyer–Panarukan. Jadi, kita siapkan, tumbuh kembangnya ekonomi bisnis di sepanjang jalan itu," imbuhnya.
Pengembangan koridor Anyer–Panarukan tidak hanya berfokus pada situs sejarah, tetapi juga diarahkan untuk menghubungkan berbagai potensi ekonomi lokal. Mulai dari pusat kuliner, produk UMKM, destinasi wisata, hingga kerajinan dan produk budaya di sepanjang jalur tersebut.
Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah menyebut pengembangan jalur sejarah itu dapat menjadi sarana untuk mendorong aktivitas ekonomi masyarakat, terutama melalui usaha kuliner, UMKM, dan pariwisata.
"Kita ingin menjadikan Jalan Raya Pos ini sebagai pergerakan ekonomi. Kita bisa menumbuhkan UMKM, kita bisa menumbuhkan kuliner. Kemudian juga kita juga bisa menumbuhkan wisata, misalnya wisata religi dan juga sejarah," bebernya.
Pengembangan potensi tersebut diharapkan membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk menjangkau pengunjung sekaligus memperluas pasar produk unggulan daerah. Namun, pelaksanaannya membutuhkan kolaborasi antardaerah agar potensi di sepanjang jalur Anyer–Panarukan dapat saling terhubung.
Sebagai tindak lanjut, program Anyer–Panarukan 3R akan diarahkan untuk membangun basis data dan dokumentasi potensi di sepanjang jalur Jalan Raya Pos. Salah satu agenda yang disiapkan adalah ekspedisi penelusuran untuk memetakan kondisi jalur, situs bersejarah, cerita masyarakat, potensi wisata, produk UMKM, serta peluang kerja sama antardaerah.
Hasil pemetaan tersebut diharapkan menjadi dasar bagi pengembangan destinasi dan paket wisata, promosi budaya, penguatan jejaring pelaku UMKM, hingga kolaborasi antardesa dalam memasarkan produk unggulan.
Program ini juga membuka ruang keterlibatan generasi muda melalui dokumentasi digital, produksi konten sejarah, kompetisi video, dan festival budaya. Pengembangan tersebut diharapkan membuat warisan sejarah lebih dikenal sekaligus memperluas peluang aktivitas ekonomi di wilayah yang dilintasi Jalan Raya Pos.
Anyer–Panarukan 3R mengusung tiga gagasan utama, yaitu Road sebagai warisan sejarah sekaligus penghubung antardaerah, Route sebagai koridor perjalanan, perdagangan, dan destinasi wisata, serta Roots sebagai upaya menggali akar sejarah, budaya, identitas, dan kearifan lokal masyarakat.