- Ekspor tenun ikat RI naik 150% menjadi US$34.000 pada semester I 2026.
- Ulos dikembangkan menjadi busana, aksesori fesyen, dekorasi interior, dan cenderamata.
- Regenerasi perajin, inovasi desain, dan kualitas produk masih menjadi tantangan industri.
Suara.com - Ekspor tenun ikat Indonesia melonjak 150% pada semester I 2026 menjadi US$34.000 dari US$13.600 pada periode yang sama tahun lalu. Meski mencatat pertumbuhan tinggi, industri tenun tradisional masih menghadapi tantangan regenerasi perajin dan peningkatan daya saing produk.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan, kenaikan ekspor tersebut menunjukkan potensi industri tenun tradisional untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
"Kinerja ekspor tenun ikat Indonesia pada tahun 2025 telah mencapai US$28.000. Kinerja positif tersebut berlanjut pada semester I 2026 di mana nilai ekspor mencapai US$34.000," kata Sarmuji dalam pembukaan Pameran Tenun Ulos di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Menurut Sarmuji, peluang pengembangan industri tenun dapat didorong melalui diversifikasi produk dan perluasan pasar. Kain tradisional seperti ulos kini tidak hanya digunakan sebagai busana, tetapi juga dikembangkan menjadi aksesori fesyen, dekorasi interior, hingga cenderamata.
Namun, inovasi produk perlu tetap mempertahankan identitas budaya yang menjadi ciri khas tenun tradisional Indonesia. Pengembangan tersebut diharapkan mampu memperluas segmen konsumen sekaligus meningkatkan nilai tambah produk.
Kementerian Perindustrian juga memberikan dukungan kepada industri kecil dan menengah (IKM) melalui penguatan sumber daya manusia dan kewirausahaan, revitalisasi sentra industri, restrukturisasi mesin dan peralatan, serta pemanfaatan teknologi produksi.
Pemerintah turut mendorong promosi dan fasilitasi pameran di dalam maupun luar negeri untuk memperluas akses pasar. Fasilitasi indikasi geografis juga dilakukan guna melindungi kekhasan dan keaslian produk tenun dari berbagai daerah.
Meski demikian, pertumbuhan ekspor belum menghilangkan persoalan mendasar di sektor ini. Regenerasi perajin, minat generasi muda terhadap keterampilan menenun, peningkatan kualitas, serta inovasi desain masih menjadi pekerjaan rumah bagi industri tenun tradisional.
Sarmuji menilai, pelestarian budaya dan pengembangan usaha harus berjalan beriringan agar tenun tradisional tetap bertahan sekaligus mampu mengikuti perubahan selera pasar.
"Tantangan tersebut adalah keberlanjutan keterampilan menenun, ketersediaan regenerasi perajin, minat generasi muda, peningkatan kualitas produk, inovasi desain, serta kemampuan pelaku usaha dalam mengikuti selera dan kebutuhan pasar," ujarnya.