- Milisi Houthi menyerang kantor Saudi Aramco di Dhahran dengan rudal balistik pada Selasa malam.
- Serangan rudal dan pesawat nirawak tersebut merusak tiga lantai menara serta memicu kebakaran terbatas.
- Kementerian Energi memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden penyerangan fasilitas penting tersebut.
Suara.com - Kantor Usaha Minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, yang berlokasi di kota Dhahran diserang menggunakan rudal balistik di tengah eskalasi konflik yang memanas antara milisi Houthi asal Yaman dan pihak kerajaan. Hantaman rudal pada Selasa malam waktu setempat tersebut menyasar sebuah menara perkantoran di dalam kompleks Aramco, menyebabkan kerusakan signifikan pada tiga lantai teratas dan memicu kebakaran gedung.
Kementerian Energi Arab Saudi pada hari Rabu mengonfirmasi insiden tersebut, memastikan bahwa kobaran api bersifat terbatas dan otoritas keamanan langsung mengambil tindakan penanganan tanpa adanya laporan korban jiwa maupun luka di lokasi kejadian.
Fasilitas Aramco di Dhahran memiliki peran yang sangat krusial karena menampung pusat operasi utama yang mengawasi jaringan luas kilang minyak lepas pantai dan darat, jaringan pipa, hingga terminal ekspor energi.
Serangan ini merupakan bagian dari kampanye kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran, yang selama sepekan terakhir intens menembakkan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) ke sejumlah situs vital Arab Saudi sebagai bentuk balasan atas dukungan Riyadh terhadap pasukan pemerintah dalam perang saudara Yaman yang kembali berkobar.
Dampak eskalasi militer ini turut berimbas pada keselamatan warga negara asing. Kementerian Luar Negeri Arab Saudi pada Selasa (13/10) melaporkan bahwa dua Warga Negara Indonesia (WNI) menjadi korban luka ringan akibat serangan Houthi di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, pada Minggu (11/10).
Secara keseluruhan, bandara internasional di ibu kota tersebut telah menjadi target empat kali serangan udara. Salah satu insiden pada hari Sabtu sebelumnya bahkan menewaskan 13 orang, menjadikannya serangan paling mematikan di wilayah Arab Saudi dalam satu dekade terakhir dan memaksa penangguhan jadwal penerbangan secara nasional.
Sistem pertahanan udara Arab Saudi melaporkan keberhasilan mencegat dan menghancurkan sejumlah drone serta rudal di langit Riyadh dan wilayah selatan. Namun, serpihan dari dua rudal Houthi yang jatuh pasca-pencegatan di ibu kota melukai empat orang—yakni dua wanita, satu pria, dan satu anak-anak—serta menimbulkan kerusakan pada 15 rumah warga, menurut laporan Pertahanan Sipil Arab Saudi pada hari Rabu.
Sebelumnya, kelompok Houthi telah secara terbuka mengancam akan memberikan balasan "harsh and painful" terhadap rangkaian serangan udara pimpinan Arab Saudi di ibu kota Yaman, Sanaa. Juru bicara milisi tersebut, Yahya Saree, memperingatkan bahwa markas Saudi Aramco di Dhahran dan kilang minyak di Riyadh menjadi target potensial mereka, seraya mendesak para pekerja sektor energi untuk menjauhi lokasi-lokasi berisiko.
Di pihak lain, televisi Al-Masirah yang dikelola Houthi melaporkan serangan koalisi terhadap stasiun sentral Sabah milik Yemen Petroleum Company. Koalisi mengonfirmasi bahwa operasi udara tersebut ditujukan untuk "neutralizing the capabilities of Houthis" yang dianggap mengancam keamanan Arab Saudi, Yaman, dan jalur perairan internasional.
Kabinet Saudi yang dipimpin Putra Mahkota Mohammed bin Salman turut menegaskan bahwa milisi tersebut akan menanggung konsekuensi berat atas serangan berulang mereka.
Perang Yaman yang kembali meletus ini tidak lepas dari efek tumpahan konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang pecah usai serangan AS-Israel ke Republik Islam tersebut pada 28 Februari 2026 lalu. Arab Saudi melanjutkan kampanye militernya di Yaman untuk menahan laju pesat Houthi, yang bulan lalu sempat menyapu pesisir Laut Merah hingga menguasai Selat Bab el-Mandeb.
Rute ini semakin krusial bagi pasokan energi global setelah Teheran menutup Selat Hormuz. Meski pasukan pemerintah berhasil mendesak Houthi dari area selat, milisi tersebut masih mencatatkan kemajuan wilayah di sekitar Taiz.
Sejauh ini, Washington menolak permintaan Riyadh untuk terlibat langsung dalam operasi militer melawan Houthi, sementara Iran justru menawarkan diri untuk menjadi mediator konflik.
Ketegangan geopolitik yang memanas ini langsung memukul pasar energi global. Harga minyak dunia merangkak naik pada perdagangan hari Rabu saat para pelaku pasar menimbang risiko gangguan pasokan akibat pertempuran di Timur Tengah melawan prospek masuknya tambahan pasokan diesel dari Rusia.
Harga minyak mentah berjangka Brent terpantau naik 89 sen, atau 0,8 persen, menjadi US$106,58 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah berjangka US West Texas Intermediate (WTI) menguat 80 sen, atau 0,9 persen, ke level US$94,94 per barel.