Bandara Riyadh Diserang Kelompok Houthi hingga Menewaskan Karyawan Maskapai Penerbangan

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 06:39 WIB
Milisi Houthi merilis video klaim penembakan jet F-15 Arab Saudi di wilayah Marib. (Houthi)
BACA 10 DETIK
  • Serangan Houthi di dua bandara Riyadh menewaskan empat orang termasuk satu staf maskapai.

  • Operasional penerbangan sempat dihentikan total sebelum akhirnya dibuka kembali pada Kamis sore.

  • Eskalasi penyerangan ini berakar dari konflik koalisi Saudi-Houthi yang melibatkan persaingan AS-Iran.

Suara.com - Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu jatuhnya korban jiwa di fasilitas sipil vital Arab Saudi. Empat orang dipastikan meninggal dunia, termasuk seorang pekerja industri penerbangan, akibat gempuran milisi Houthi di dua bandara wilayah Riyadh pada Kamis (8/10).

Jumlah total korban tewas bertambah dari laporan awal yang menyebutkan tiga orang. Kepastian korban terbaru muncul usai pihak maskapai mengidentifikasi adanya staf yang gugur dalam insiden di Bandara Internasional King Khalid.

"Saudi mengonfirmasi insiden Bandara King Khalid International di Riyadh menyebabkan satu karyawan tewas," demikian pernyataan resmi mereka, dikutip Middle East Eye.

Hantaman amunisi milisi juga merusak struktur satu armada pesawat yang terparkir di area bandara. Petugas memastikan tidak ada penumpang atau awak kapal di dalam pesawat saat ledakan terjadi.

Otoritas keamanan Saudi segera menerjunkan tim darurat guna mengamankan lokasi dan memberikan penanganan medis. Penutupan sementara lalu lintas udara langsung diberlakukan untuk mengantisipasi potensi ancaman susulan.

Aktivitas penerbangan di lokasi terdampak sempat lumpuh total selama beberapa jam. Layanan penerbangan komersial baru dapat beroperasi kembali secara bertahap pada Kamis malam pukul 18.00 waktu setempat.

Kelompok milisi Houthi dari Yaman sengaja membidik infrastruktur perhubungan udara tersebut di tengah memanasnya pertempuran darat. Langkah penyerangan ini menjadi balasan atas gempuran masif militer koalisi bentukan Arab Saudi bersama pasukan pemerintah Yaman.

Ketegangan bersenjata antara koalisi Saudi dan kelompok Houthi sebenarnya telah memuncak sejak bulan lalu. Konflik lokal ini kian membara lantaran bertautan langsung dengan gesekan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Kelompok Houthi disinyalir mendapat dukungan modal dan persenjataan dari pemerintah Iran. Di sisi lain, Kerajaan Arab Saudi memegang peran kunci sebagai sekutu utama strategis Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com