Krisis! Kelangkaan BBM Meluas Tak Hanya Bali, Antrean Berjam-jam

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:21 WIB
Jepretan layar Antrean BBM di Bali oleh warganet pada Oktober 13 2026 [Ist]
BACA 10 DETIK
  • Kelangkaan BBM bersubsidi melanda Bali dan Jawa Timur sejak awal Oktober 2026 akibat gangguan distribusi penyeberangan.
  • Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus mengatasi krisis tersebut dengan mengatur ulang pola pengiriman bertahap dari Surabaya.
  • Bank Indonesia menyatakan dampak ekonomi gangguan pasokan BBM ini bersifat sementara serta masih dalam batas wajar.

Suara.com - Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang awalnya terjadi di Bali kini telah merembet ke sejumlah wilayah di Jawa Timur, khususnya di kawasan Malang, Jember, dan Bondowoso.

Kondisi kelangkaan yang terjadi sejak awal Oktober 2026 ini memaksa para pengendara mengantre berjam-jam di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) demi mendapatkan pasokan BBM bersubsidi.

Untuk Bali, dilaporkan antrean di SPBU mencapai lebih dari 1 kilometer.

Di Kota Malang, pantauan dari laporan warga melalui akun Instagram @infomalang pada Rabu (14/10/2026) menunjukkan antrean kendaraan masih mengular di berbagai titik SPBU. 

Terkait situasi tersebut, Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyatakan bahwa pihaknya sedang mengatur ulang pola distribusi.

Dengan rata-rata konsumsi harian masyarakat Malang yang mencapai 720 kiloliter pada September 2026, Pertamina mengatur pengiriman bertahap dari Surabaya dan menaikkan frekuensi distribusi hingga empat ritase khusus pada periode akhir pekan.

Pemandangan serupa terjadi di Kabupaten Jember, di mana warga kesulitan mendapatkan Pertalite. Namun, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, serta Perdagangan Kabupaten Jember, Sartini, membantah isu kelangkaan pasokan.

Ia menjelaskan bahwa antrean dipicu oleh terganggunya distribusi dari Banyuwangi akibat perbaikan dermaga di Gilimanuk sejak 26 Agustus 2026. Perbaikan tersebut memangkas operasional kapal penyeberangan dari 36 menjadi 23 unit, yang sempat memicu kemacetan hingga 12 kilometer di Ketapang pada 3 September lalu.

Keterlambatan logistik juga dikeluhkan oleh warga Kabupaten Bondowoso. Manajer SPBU Tamansari sekaligus perwakilan Hiswana Migas setempat, S. Jagir, membenarkan bahwa kedatangan armada tangki dari Surabaya kerap terlambat dari jadwal, diduga akibat keterbatasan jumlah armada pengirim. Kendati demikian, ia menjamin alokasi pasokan harian BBM untuk wilayah Bondowoso tetap tersedia.

Lebih luas, laporan terbaru menunjukkan bahwa krisis BBM jenis Pertalite dan Solar bersubsidi tidak hanya terjadi di Bali dan Jawa Timur, tetapi juga melanda sejumlah wilayah di Indonesia, seperti Lampung.

Menyoroti dampak ekonomi dari kendala pasokan ini, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali, Achris Sarwani, menilai efeknya terhadap perekonomian daerah masih dalam batas wajar dan bersifat sementara.

Gangguan operasional saat ini lebih banyak berimbas pada kelancaran mobilitas wisatawan, layanan antar-jemput tamu hotel, serta pengiriman logistik bahan makanan dan jasa binatu, sementara aktivitas usaha secara umum masih berjalan normal.

“Mengingat proses normalisasi pasokan dan distribusi BBM sedang berlangsung, dampak terhadap perekonomian daerah diprakirakan tetap terbatas dan bersifat sementara,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Bali Achris Sarwani di Denpasar, Rabu (14/10/2026) via Antara.

Berdasarkan simulasi Bank Indonesia, jika keterbatasan pasokan BBM berlangsung selama tiga hingga lima hari, pertumbuhan ekonomi Bali diproyeksikan terkoreksi tipis sebesar 0,014 persen. Namun, apabila kendala logistik ini berlarut hingga tujuh hari, kontraksi ekonomi berpotensi mendalam hingga 0,019 persen.

Dari sisi inflasi, pemantauan BI di berbagai pasar tradisional menunjukkan bahwa harga komoditas pangan masih relatif stabil dengan ketersediaan barang yang mencukupi.

Meski belum ada indikasi tekanan harga yang luas, BI mengingatkan adanya potensi kenaikan biaya distribusi jangka pendek. Keterbatasan BBM selama tiga hingga lima hari diperkirakan akan menyumbang inflasi Bali sebesar 0,010 persen, dan angka tersebut berpotensi naik menjadi 0,018 persen jika kondisi antrean berlanjut hingga satu pekan.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com