- Harga batu bara global di bursa internasional mengalami tekanan dan koreksi harga pada perdagangan hari Rabu (14/10/2026).
- Penurunan harga tersebut dipicu oleh sinyal melemahnya permintaan impor dari China akibat ketersediaan cadangan inventaris yang masih melimpah.
- Dampak dari sentimen tersebut membuat harga kontrak berjangka batu bara Newcastle dan Rotterdam kompak mencatatkan penyusutan nilai.
Suara.com - Harga batu bara di pasar global harus tertahan dan mengalami tekanan pada sesi perdagangan hari Rabu (14/10/2026). Koreksi harga ini utamanya dipicu oleh sinyal melemahnya permintaan impor dari China, yang angka realisasinya tercatat lebih rendah jika dikomparasikan dengan performa pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
Meskipun pasokan di pasar mulai mengetat dan harga domestik di Negeri Tirai Bambu tersebut terpantau melonjak tajam, ketersediaan cadangan inventaris yang masih relatif melimpah menjadi faktor utama yang diwaspadai oleh para pelaku pasar.
Tekanan terhadap komoditas energi fosil ini terlihat jelas pada pergerakan harga kontrak berjangka di bursa utama dunia. Berdasarkan rekam data perdagangan internasional, harga batu bara acuan Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan Oktober 2026 mengalami penyusutan sebesar US$0,05 (sekitar Rp775) hingga bertengger di level US$150,35 (sekitar Rp2,33 juta) per ton.
Pelemahan yang lebih dalam terjadi pada kontrak-kontrak pengiriman bulan berikutnya. Berikut rincian koreksi harga batu bara di bursa global:
- Batu Bara Newcastle Kontrak November 2026: Anjlok sebesar US$1,35 (sekitar Rp20.925) menjadi US$151,75 (sekitar Rp2,35 juta) per ton.
- Batu Bara Newcastle Kontrak Desember 2026: Terkoreksi US$1,05 (sekitar Rp16.275) menjadi US$153,3 (sekitar Rp2,37 juta) per ton.
- Batu Bara Rotterdam Kontrak Oktober 2026: Turun sebesar US$0,5 (sekitar Rp7.750) menjadi US$145 (sekitar Rp2,24 juta) per ton.
- Batu Bara Rotterdam Kontrak November 2026: Jatuh sebesar US$1,75 (sekitar Rp27.125) menjadi US$147,9 (sekitar Rp2,29 juta) per ton.
- Batu Bara Rotterdam Kontrak Desember 2026: Ambles sebesar US$1,8 (sekitar Rp27.900) menjadi US$146,9 (sekitar Rp2,27 juta) per ton.
Mengacu pada laporan portal intelijen energi OilPrice yang didasarkan pada rilis data kepabeanan resmi hari Rabu, volume impor batu bara China mencatatkan penurunan sekitar 6 persen secara tahunan (year-on-year) pada bulan September 2026. Secara akumulatif, total impor untuk seluruh spesifikasi batu bara tercatat mencapai 43,37 juta ton.
Angka ini memang menunjukkan pertumbuhan bulanan (month-on-month) sebesar 3 persen jika dibandingkan dengan realisasi bulan Agustus, namun tetap saja menyusut 5,7 persen apabila disandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Paradoks terjadi di pasar internal China. Di tengah tren penurunan volume impor tahunan, harga beli batu bara impor di negara tersebut justru mengalami eskalasi. Analis pasar komoditas dari Mysteel Global mencatat bahwa rata-rata harga impor batu bara China sepanjang bulan September telah menembus level tertingginya sejak tahun 2024.
Lonjakan serupa juga terjadi pada harga acuan batu bara termal domestik China, yang berhasil menyentuh rekor tertinggi dalam tiga tahun terakhir pada penghujung September. Eskalasi harga ini merupakan residu dari menyusutnya angka produksi tambang lokal, yang diperparah oleh terbatasnya kuota pasokan dari Indonesia sebagai negara pengekspor batu bara terbesar bagi China.
Secara keseluruhan, harga batu bara termal di pasar spot China telah meroket hingga 24 persen terhitung sejak pertengahan Juli lalu. Pengetatan pasokan dan tingginya angka konsumsi energi domestik menjadi motor utama pendorong harga, mengingat perekonomian China masih sangat bergantung pada pembakaran batu bara untuk menyokong hampir 50 persen dari total kapasitas pembangkitan listrik nasionalnya.
Merosotnya tingkat produksi batu bara domestik China bukan tanpa alasan. Pemerintah pusat di Beijing tengah mengintensifkan inspeksi dan audit keselamatan pertambangan secara masif di berbagai wilayah. Kebijakan pengetatan operasional ini merupakan respons langsung atas insiden kecelakaan tambang mematikan yang terjadi pada bulan Mei lalu di Provinsi Shanxi, yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung utama penghasil batu bara di negara tersebut.
Kendati mengalami koreksi pada perdagangan hari Rabu, komoditas ini sejatinya baru saja mencetak reli penguatan. Pada perdagangan hari Selasa (13/10/2026), harga batu bara merujuk pada data Refinitiv sempat ditutup menguat 1,03 persen di posisi US$153,1 (sekitar Rp2,37 juta) per ton. Kenaikan tersebut memperpanjang tren positif batu bara yang sempat melesat hingga 1,8 persen dalam tiga hari perdagangan sebelumnya.
Reli harga di awal pekan tersebut sangat dipengaruhi oleh sentimen lonjakan harga gas alam cair (liquefied natural gas/LNG). Berbagai gangguan rantai pasok gas global, yang berkorelasi erat dengan memanasnya tensi konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah, telah memaksa banyak negara untuk kembali melirik pembangkit listrik berbahan bakar batu bara sebagai alternatif energi yang lebih logis.
Dengan perbandingan harga batu bara yang saat ini dikalkulasikan sekitar 80 persen lebih murah dibandingkan dengan komoditas LNG, para pembeli berskala besar di kawasan Asia dan Eropa mulai agresif meningkatkan volume impor komoditas hitam tersebut guna mengamankan pasokan energi menjelang datangnya puncak musim dingin.
Situasi geopolitik dan krisis energi turunan ini turut mengafirmasi proyeksi terbaru dari Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA). Pada bulan September lalu, lembaga tersebut telah merilis estimasi yang memperkirakan bahwa tingkat permintaan batu bara secara global akan memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa pada tahun ini.
Proyeksi mencengangkan tersebut tetap muncul ke permukaan meskipun berbagai inisiatif transisi menuju energi bersih terus digaungkan secara global, dan banyak negara telah secara bertahap mulai menutup operasional fasilitas pembangkit listrik tenaga batu bara mereka, khususnya di wilayah Eropa serta Amerika Utara.