Lapangan Kerja RI Seret, Menperin: Anak Muda Silahkan Kabur ke Luar Negeri!

Kamis, 15 Oktober 2026 | 18:08 WIB
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mempersilakan anak muda Indonesia mencari pekerjaan ke luar negeri di tengah sulitnya penyerapan tenaga kerja di dalam negeri. [Suara.com/Bagaskara]
BACA 10 DETIK
  • Menperin mempersilakan anak muda bekerja ke luar negeri di tengah sulitnya lapangan kerja RI.
  • Potensi 291.000 lowongan kerja luar negeri, tetapi Indonesia baru mengisi sekitar 25%.
  • Kemenperin menargetkan kapasitas pelatihan 11.000 peserta dimanfaatkan penuh tahun depan.

Suara.com - Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mempersilakan anak muda Indonesia mencari pekerjaan ke luar negeri di tengah sulitnya penyerapan tenaga kerja di dalam negeri. Namun, ia mengingatkan calon pekerja migran harus dibekali keterampilan agar sesuai dengan kebutuhan pasar kerja global.

“Teman-teman yang muda, boleh kabur ke luar negeri boleh, tapi setelah dilatih oleh P2MI dan Kementerian Perindustrian,” kata Sarmuji di Jakarta, Kamis (15/10/2026).

Peluang kerja di luar negeri dinilai masih terbuka lebar. Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin mengungkapkan, potensi lowongan kerja luar negeri pada 2026 mencapai sekitar 291.000 berdasarkan permintaan tenaga kerja yang telah diverifikasi perwakilan Indonesia di luar negeri.

Pencari kerja memadati area gelaran Jakarta Job Fair 2025 di GOR Pancoran, Jakarta, Selasa (29/4/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]

Namun, Indonesia baru mampu mengisi sekitar 25% dari potensi tersebut. Artinya, masih ada sekitar 75% peluang kerja yang belum dimanfaatkan tenaga kerja Indonesia.

“Masih ada 75 persen lagi yang belum kita bisa isi. Artinya demand-nya sangat tinggi,” ujar Mukhtarudin.

Untuk menangkap peluang tersebut, pemerintah menyiapkan pelatihan berbasis permintaan pasar atau demand-based training. Dengan pendekatan ini, kebutuhan tenaga kerja dari pemberi kerja di luar negeri diidentifikasi terlebih dahulu sebelum pemerintah menentukan jenis keterampilan yang perlu dipersiapkan.

Sarmuji mengatakan, Kementerian Perindustrian memiliki sejumlah fasilitas pendidikan dan pelatihan yang dapat dimanfaatkan untuk mencetak tenaga kerja terampil. Fasilitas tersebut mencakup balai diklat industri, politeknik, sekolah menengah kejuruan (SMK), hingga akademi komunitas.

Kapasitas balai diklat industri Kemenperin mencapai 11.000 peserta per tahun. Namun, peserta yang telah masuk dalam kerja sama dengan Kementerian P2MI baru sebanyak 1.066 orang.

“Memang kalau bisa tahun depan kita full-kan 11.000. Itu baru balai diklat, belum politekniknya, SMK-nya, semuanya punya keterampilan khusus,” kata Sarmuji.

Menurutnya, peningkatan keterampilan tenaga kerja semakin penting seiring perubahan karakter industri yang makin banyak menggunakan teknologi. Perubahan tersebut turut memengaruhi kemampuan industri dalam menyerap tenaga kerja di dalam negeri.

Di sisi lain, Indonesia memiliki bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif yang besar. Potensi tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan kompetensi agar tenaga kerja Indonesia mampu bersaing dan mengisi kebutuhan industri di pasar global.

“Kita punya bonus demografi, punya tenaga kerja produktif yang banyak, yang kalau dilatih bisa mengisi lapangan kerja yang ada di luar negeri,” ujarnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com