Biaya Hidup Mahal, Ibas Ingatkan Tantangan Ekonomi Kelas Menengah RI

Senin, 19 Oktober 2026 | 06:32 WIB
Para pekerja beraktivitas saat jam pulang kerja di kawasan Sudirman, Jakarta, Senin (10/8/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
BACA 10 DETIK
  • Ibas mengingatkan generasi muda menghadapi persaingan kerja dan biaya hidup yang meningkat.
  • Pendidikan harus selaras dengan kebutuhan industri untuk memperluas peluang kerja berkualitas.
  • Beasiswa dan pengalaman internasional perlu mendorong daya saing serta kontribusi bagi Indonesia.

Suara.com - Tak sekedar bercanda Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengingatkan generasi muda Indonesia atau kelas menengah RI agar bersiap menghadapi tantangan ekonomi, mulai dari persaingan kerja, mahalnya biaya hidup, hingga tuntutan kemandirian finansial.

Menurut Ibas, tantangan generasi muda bukan sekadar mendapatkan pekerjaan, tetapi juga memastikan penghasilan yang diperoleh cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, mengembangkan diri, dan merencanakan masa depan.

Pesan tersebut disampaikan Ibas saat berdialog dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) di Australian National University (ANU), Canberra, Jumat (16/10/2026).

Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI itu menilai pendidikan tinggi perlu terhubung dengan kebutuhan industri agar lulusan memiliki keterampilan yang relevan dengan perkembangan ekonomi dan dunia kerja.

Kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan institusi pendidikan juga dinilai penting untuk memperluas kesempatan kerja sekaligus meningkatkan kualitas pekerjaan bagi generasi muda.

Selain itu, Ibas menekankan pentingnya keberlanjutan beasiswa agar mahasiswa berprestasi dari berbagai latar belakang ekonomi tetap memiliki akses terhadap pendidikan berkualitas.

Menurutnya, pendidikan dan pengalaman internasional harus menjadi modal untuk meningkatkan daya saing, memperluas jejaring, serta menghadirkan solusi atas persoalan Indonesia, termasuk pengangguran dan kemiskinan.

Ibas juga mengajak mahasiswa untuk bersikap adaptif, disiplin, dan gigih dalam menghadapi ketidakpastian karier. Ia menegaskan, lulusan luar negeri tidak harus kembali ke satu jalur profesi tertentu, tetapi dapat berkontribusi melalui berbagai bidang, mulai dari profesional, akademisi, hingga wirausaha.

Di sisi lain, Ibas mendorong mahasiswa tetap kritis terhadap kebijakan publik dan aktif menyampaikan gagasan berbasis riset. Aspirasi masyarakat, menurutnya, perlu menjadi masukan dalam penyusunan kebijakan, termasuk terkait anggaran pendidikan, penciptaan lapangan kerja, dan kesejahteraan.

β€œTo lead is to listen. Seorang pemimpin harus mau mendengar karena dari sana kita dapat memahami harapan, kebutuhan, dan pemikiran masyarakat,” ujarnya.

Ibas berharap pengalaman akademik dan jejaring internasional mahasiswa Indonesia di Australia dapat dimanfaatkan untuk memperkuat daya saing sumber daya manusia sekaligus mendorong pembangunan ekonomi nasional.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com