- Aktivitas usaha melambat, SBT turun dari 12,97% menjadi 11,46%.
- Penyerapan tenaga kerja industri dan perdagangan masih tertekan.
- Pertumbuhan upah melambat tajam, dari 39,20% menjadi 9,24%.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) mencatat aktivitas dunia usaha Indonesia mulai kehilangan momentum pada kuartal III-2026. Meski masih tumbuh, kinerja usaha melambat dan kondisi ketenagakerjaan belum menunjukkan perbaikan berarti, terutama di sektor industri pengolahan dan perdagangan.
Berdasarkan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) BI, Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha pada kuartal III-2026 tercatat sebesar 11,46%. Angka ini turun dibandingkan kuartal II-2026 yang mencapai 12,97%.
Pelemahan diperkirakan berlanjut pada kuartal IV-2026. BI mencatat SBT kegiatan usaha diprakirakan kembali turun menjadi 10,77%, mengindikasikan momentum aktivitas bisnis berpotensi semakin terbatas menjelang akhir tahun.
Sejumlah sektor memang masih tumbuh, termasuk industri pengolahan, konstruksi, dan perdagangan. Namun, laju pertumbuhan beberapa sektor diperkirakan melambat, sementara sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan berisiko mengalami kontraksi.
Pada kuartal III-2026, kegiatan usaha sektor pertanian masih mencatat SBT positif 0,39%. Namun, pada kuartal berikutnya, kinerja sektor tersebut diprakirakan berbalik negatif dengan SBT minus 0,58%. BI mengaitkan kondisi ini dengan masuknya musim tanam, peremajaan tanaman perkebunan kelapa sawit, serta cuaca yang kurang mendukung.
Tekanan juga terlihat dari sisi penyerapan tenaga kerja. SBT penggunaan tenaga kerja pada kuartal III-2026 hanya sebesar 0,07%, turun dari 0,14% pada kuartal sebelumnya.
Kondisi industri pengolahan bahkan masih mengkhawatirkan. Meski membaik dari kuartal sebelumnya, penggunaan tenaga kerja sektor ini masih berada di zona kontraksi dengan SBT minus 0,36%. Pada kuartal IV-2026, indikator tersebut diprakirakan masih negatif, yakni minus 0,12%.
Sektor perdagangan juga menghadapi persoalan serupa. Ketika kegiatan usahanya relatif stabil dengan SBT 1,08% pada kuartal III-2026, penggunaan tenaga kerjanya justru terkontraksi dengan SBT minus 0,22%. Artinya, terjaganya aktivitas perdagangan belum otomatis diikuti peningkatan penyerapan pekerja.
BI memang memprakirakan penggunaan tenaga kerja secara keseluruhan membaik pada kuartal IV-2026, dengan SBT meningkat menjadi 0,97%. Namun, kenaikan tersebut antara lain ditopang faktor musiman, seperti perayaan Natal dan libur akhir tahun, serta penambahan layanan di sektor jasa keuangan. Karena itu, peningkatan ini belum cukup untuk memastikan perbaikan penyerapan tenaga kerja berlangsung merata dan berkelanjutan.
Di sisi lain, tekanan harga jual di tingkat produsen juga melambat. SBT harga jual pada kuartal III-2026 turun menjadi 19,24% dari 22,38% pada kuartal sebelumnya. Pada kuartal IV-2026, indikator tersebut diprakirakan kembali turun menjadi 12,69%.
Perlambatan harga jual terutama dipengaruhi penyesuaian biaya bahan baku, harga batu bara acuan, serta strategi promosi dan potongan harga yang dilakukan peritel untuk menjaga permintaan. Kondisi ini dapat menjadi sinyal bahwa pelaku usaha semakin mengandalkan diskon untuk mempertahankan penjualan, meskipun perlambatan harga tidak serta-merta berarti permintaan konsumen melemah.
Dari sisi upah, BI mencatat pertumbuhan upah pada semester II-2026 juga melambat. Saldo Bersih perkembangan upah tercatat sebesar 9,24%, jauh lebih rendah dibandingkan 39,20% pada semester I-2026 dan 10,49% pada semester II-2025.
Rata-rata upah pegawai di bawah level mandor atau supervisor tercatat sebesar Rp3,87 juta per bulan. Sementara itu, rata-rata upah pegawai setingkat mandor atau supervisor mencapai Rp5,96 juta per bulan.
Meski demikian, kondisi keuangan perusahaan belum menunjukkan tekanan yang merata. Indikator likuiditas meningkat dari 15,03% menjadi 15,56%, sedangkan indikator rentabilitas naik dari 11,87% menjadi 13,11%. Akses kredit perbankan juga masih dinilai relatif mudah, walaupun indikatornya turun dari 2,45% menjadi 1,84%.
Adapun investasi masih tumbuh, dengan SBT sebesar 6,23% pada kuartal III-2026, naik dari 5,46% pada kuartal sebelumnya. Namun, investasi diprakirakan sedikit melambat menjadi 5,64% pada kuartal IV-2026.