- Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Erwin Gunawan Hutapea menyatakan rupiah anjlok ke level Rp18.075.
- Pelemahan nilai tukar tersebut diakibatkan oleh sentimen global serta keluarnya arus dana asing dari pasar keuangan domestik Indonesia.
- Bank Indonesia berkomitmen menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar secara konsisten serta memastikan cadangan devisa tetap terjaga.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) menilai bahwa pelemahan rupiah disebabkan oleh sentimen global. Hal itu terlihat dari pergerakan mata uang Garuda anjlok ke level Rp18.075.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea mengatakan pelemahan rupiah disebabkan oleh arus dana asing yang keluar dari Indonesia di pasar keuangan.
"Di tengah meningkatnya sentimen risk-off global yang mendorong penguatan USD dan menekan pasar keuangan domestik, arus keluar dana dari aset portofolio domestik diperkirakan masih berlanjut," ujarnya dalam jawaban tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Namun, Erwin meyakini secars umum bahwa ergerakan Rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan, dengan pelemahan terbatas sebesar 0,28 persen secara quarter-to-date (QTD).
Cadangan devisa juga tetap terjaga sebesar 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026.
Bank Indonesia berkomitmen untuk terus hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai fundamentalnya dan memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik.
"Intervensi terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," katanya.
Selain itu, Bank Indonesia juga menjaga kecukupan likuiditas dan mengelola struktur suku bunga di pasar uang, serta terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya.