- Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan perdagangan Indonesia dan Rusia mencapai 4,84 miliar Dolar AS sepanjang tahun 2025.
- Airlangga Hartarto bertemu Deputi Perdana Menteri Denis Manturov untuk membahas perluasan kemitraan industri strategis pada Oktober 2026.
- Ratifikasi perjanjian perdagangan bebas Indonesia dan EAEU ditargetkan selesai akhir tahun 2026 guna membuka akses pasar.
Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan kalau hubungan perdagangan antara Indonesia dan Rusia mencapai 4,84 miliar Dolar AS atau sekitar Rp 87,3 triliun sepanjang tahun 2025.
Menko Perekonomian menyebut hubungan dagang RI-Rusia di 2025 naik 21,6 persen dibandingkan 2024 dengan angka 3,98 miliar Dolar AS. Adapun komoditas seperti minyak kelapa sawit, kopi, kakao, produk pertanian, dan pupuk menjadi bagian penting dalam hubungan perdagangan kedua negara.
Berangkat dari sana, Indonesia dan Rusia terus menunjukan komitmen kuat guna memperkuat kerja sama di berbagai sektor utama dengan mematangkan langkah-langkah kolaborasi strategis pada satu tahun terakhir.
Dalam pertemuannya dengan Deputi Pertama Perdana Menteri Rusia Denis Manturov, Airlangga menyebut pembahasan mereka fokus pada perluasan kemitraan antar pelaku usaha, peningkatan kapasitas industri nasional, hingga penjajakan kolaborasi di sektor perkapalan dan kedirgantaraan.
Pertemuan ini juga merupakan tindak lanjut dari pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok Rusia, pada September 2026, serta hasil Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-14 RI-Rusia di Kazan Rusia, pada Mei 2026.
“Indonesia dan Rusia memiliki potensi besar untuk terus memperkuat kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan. Kami berkomitmen untuk mendorong peningkatan perdagangan dan investasi, memperluas kemitraan antar pelaku usaha, serta memastikan berbagai peluang kerja sama dapat ditindaklanjuti menjadi langkah-langkah konkret yang memberikan manfaat bagi kedua negara,” katanya dalam siaran pers, Senin (19/10/2026).
Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, Menko Airlangga mendorong penguatan kerja sama ekonomi dan industri kedua negara melalui peningkatan kemitraan antar pelaku usaha, perluasan peluang investasi, serta penjajakan kerja sama teknologi dan pengembangan kapasitas industri.
Kedua pihak juga membahas berbagai langkah untuk memperkuat kerja sama di sektor strategis, khususnya industri perkapalan dan penerbangan, guna mendorong peluang kolaborasi industri antara kedua negara.
Sementara itu DPM Manturov menekankan pentingnya penguatan hubungan antar pelaku usaha sebagai faktor utama dalam memperluas kerja sama perdagangan dan ekonomi kedua negara.
Ia menilai, membangun kontak bisnis merupakan faktor kunci dalam memperluas hubungan perdagangan dan ekonomi. Sebagai tindak lanjut atas partisipasi Indonesia sebagai negara mitra dalam pameran INNOPROM di Yekaterinburg pada bulan Juli lalu, maka delegasi bisnis Rusia menghadiri TEI 2026 pekan ini.
"Perusahaan-perusahaan kami menghadiri pertemuan business-to-business (B2B) dengan mitra potensial Indonesia, serta forum bisnis dengan sesi tematik mengenai perdagangan, investasi, dan kerja sama industri," ujar DPM Manturov.
Lebih lanjut, kedua pihak juga membahas perkembangan Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA). Perjanjian ini diharapkan dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk unggulan Indonesia seperti minyak kelapa sawit, kopi, kakao, tekstil, dan furnitur, serta memperkuat hubungan perdagangan dengan negara-negara anggota EAEU.
Saat ini, proses ratifikasi perjanjian tersebut telah mendekati tahap penyelesaian. Kedua pihak berharap seluruh prosedur yang diperlukan dapat diselesaikan sebelum akhir 2026, sehingga perjanjian dapat segera berlaku efektif (Entry into Force/EIF) dan memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha kedua negara.
Pada akhir pertemuan, Menko Airlangga dan DPM Manturov sepakat untuk terus memperkuat kerja sama di berbagai sektor strategis, antara lain pertanian, teknologi, industri, serta pengembangan rantai pasok. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat terus berkembang secara berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian kedua negara.