- Bank Mandiri menggunakan saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk dan PT Pradiksi Gunatama Tbk sebagai agunan kredit Jhonlin Baratama.
- Advisor BFDC Amin Nurdin menyatakan bahwa fluktuasi harga saham menuntut penerapan mitigasi risiko pembiayaan yang sangat ketat.
- Arus kas kegiatan usaha tetap menjadi sumber utama pembayaran kredit, sedangkan agunan saham berfungsi sebagai perlindungan tambahan.
Suara.com - Penggunaan saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) sebagai agunan tambahan dalam fasilitas kredit Bank Mandiri kepada Jhonlin Baratama menjadi sorotan dari sisi pengelolaan risiko pembiayaan korporasi.
Advisor Banking & Finance Development Center (BFDC) Amin Nurdin menilai, penggunaan saham sebagai agunan dapat menjadi alternatif pendanaan bagi perusahaan. Namun, skema tersebut perlu memperhitungkan perubahan harga saham yang berpotensi memengaruhi nilai jaminan.
"Penggunaan saham sebagai agunan bisa menjadi alternatif pendanaan yang produktif bagi sektor riil. Skema tersebut perlu dipahami dalam konteks tujuan pembiayaan dan manfaat ekonominya," ujar Amin seperti dikutip, Selasa (20/10/2026).
Menurut Amin, saham sebagai agunan tambahan merupakan praktik yang dikenal dalam pembiayaan korporasi. Melalui mekanisme ini, perusahaan dapat memperoleh pendanaan tanpa harus melepas kepemilikan sahamnya.
Dalam konteks fasilitas kredit kepada Jhonlin Baratama, Bank Mandiri menyatakan pembiayaan tersebut ditujukan untuk pengembangan usaha, termasuk belanja modal dan kebutuhan pembiayaan di industri batu bara beserta sektor penunjangnya, bukan untuk perdagangan saham.
Penggunaan saham sebagai jaminan memiliki karakteristik berbeda dibandingkan aset yang nilainya relatif tidak berubah dalam jangka pendek. Harga saham dapat berfluktuasi mengikuti kondisi pasar sehingga nilai agunan juga berpotensi mengalami perubahan.
Amin menjelaskan, kondisi tersebut membuat penilaian agunan dan pemantauan pasar menjadi bagian penting dalam pengelolaan risiko pembiayaan.
Menurut dia, langkah mitigasi dapat dilakukan melalui penilaian agunan secara konservatif, penerapan pengurangan nilai agunan atau haircut yang memadai, serta pemantauan harga dan likuiditas saham secara berkala.
Selain itu, pengujian ketahanan nilai agunan melalui stress testing dapat membantu mengukur potensi perubahan nilai jaminan dalam berbagai kondisi pasar.
Meski demikian, bahan yang disampaikan tidak merinci nilai fasilitas kredit Jhonlin Baratama, jumlah saham JARR dan PGUN yang diagunkan, maupun rasio nilai pinjaman terhadap agunan. Karena itu, besarnya eksposur risiko dari penggunaan saham tersebut belum dapat diketahui berdasarkan informasi yang tersedia.
Arus Kas Tetap Jadi Kunci Pembayaran Kredit
Di sisi lain, Amin menekankan bahwa keberadaan agunan bukan satu-satunya faktor dalam menilai keamanan pembiayaan korporasi. Kemampuan debitur memenuhi kewajiban pembayaran tetap menjadi aspek mendasar.
Menurutnya, arus kas dari kegiatan usaha pada umumnya menjadi sumber utama pembayaran kredit, sedangkan agunan berfungsi sebagai perlindungan tambahan atau second way out.
Dengan demikian, penilaian terhadap pembiayaan perlu mempertimbangkan prospek usaha dan kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas, selain memperhitungkan nilai aset yang dijadikan jaminan.
"Pembiayaan produktif dapat mendukung pertumbuhan usaha apabila ditopang prospek bisnis yang baik dan kemampuan perusahaan memenuhi kewajibannya. Karena itu, tujuan penggunaan dana dan keberlanjutan kegiatan usaha menjadi bagian penting dalam melihat manfaat suatu pembiayaan," jelasnya.
Amin menambahkan, penggunaan saham sebagai agunan dapat mendukung pembiayaan sektor riil selama struktur pembiayaan dirancang secara proporsional, tujuan penggunaan dana jelas, dan pengelolaan risiko dilakukan secara konsisten.
"Penggunaan saham sebagai agunan bukan sesuatu yang pada dasarnya baik atau buruk. Skema ini dapat mendukung pembiayaan sektor riil apabila dana digunakan secara produktif, kemampuan pembayaran debitur terukur, dan pengawasan risiko dilakukan secara disiplin," pungkas Amin.