Danantara Buka Peluang Borong Saham BUMN saat IHSG Anjlok

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:35 WIB
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani. [Antara/Bayu Pratama S/nz]
BACA 10 DETIK
  • Menteri Investasi Rosan Roeslani menyatakan Danantara membuka peluang menambah investasi saham BUMN di Jakarta pada Senin (19/10/2026).
  • Pelemahan IHSG membuat valuasi saham perbankan BUMN menjadi lebih murah dengan rasio PBV di bawah satu.
  • Danantara akan melakukan analisis fundamental secara menyeluruh sebelum memutuskan investasi jangka panjang secara bertahap tersebut.

Suara.com - Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, membuka peluang menambah investasi di pasar saham, termasuk saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN), di tengah penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Rosan menilai, pelemahan harga saham membuat valuasi sejumlah perusahaan menjadi lebih murah. Kondisi tersebut dinilai bisa menjadi peluang bagi Danantara untuk masuk ke pasar modal dengan orientasi investasi jangka panjang.

"Jadi ke depannya yang kita mengetahui ya sangat-sangat baik, ya. Jadi, buat saya sih, buat kami kita juga bersama melakukan analisa. Kalau ini kan sifatnya selama valuasinya menarik, kemudian pondasinya BUMN kita juga kuat, ya kan?" kata Rosan di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Senin (19/10/2026).

Menurut Rosan, keputusan investasi tidak hanya mempertimbangkan penurunan harga saham, tetapi juga kondisi fundamental perusahaan dan prospek bisnis ke depan.

Dia mencontohkan, sektor perbankan yang dinilai masih memiliki kondisi keuangan yang sehat. Dari sisi valuasi, Rosan menyebut, rasio price to book value (PBV) perbankan rata-rata sudah berada di bawah satu.

"Karena kalau kita lihat contohnya gini, kan kalau perhitungan perbankan pakai price to book value, gitu kan. Ini rata-rata sudah di bawah satu, gitu kan," ujarnya.

Ilustrasi BUMN (Shutterstock)

Rosan juga menyoroti potensi imbal hasil dividen dari saham perbankan BUMN. Dia menyebut dividend yield Bank Mandiri berada di kisaran 16 persen, sedangkan BRI sekitar 13 persen.

Menurut dia, potensi dividen tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menilai daya tarik saham untuk investasi jangka panjang, di luar kemungkinan kenaikan harga saham.

Meski demikian, Rosan menegaskan Danantara tidak akan mengambil keputusan hanya berdasarkan murahnya valuasi saham. Pihaknya tetap melakukan analisis secara menyeluruh sebelum menentukan perusahaan yang akan menjadi tujuan investasi.

"Ya, kita melihat ini adalah, ya tadi kan sudah saya sampaikan, ya. Kita masuk ke saham-saham yang tentunya sudah dianalisa baik secara fundamental, kita kan lebih analisa secara fundamental, ya. Secara fundamental, secara teknikal, secara apa? Persepsi pasar dan lain-lain, ya udah. Karena kita memutuskan untuk masuk secara bertahap," tutur Rosan.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com