Tari Soya-Soya, Jejak Perjuangan Ternate yang Terus Hidup di Pulau Obi

Selasa, 20 Oktober 2026 | 18:20 WIB
Tarian Soya-Soya lahir dari nenek moyang Maluku Utara. (Dok. Istimewa)

“Kita mengajak semua teman-teman yang ada di Harita Nickel, mari kita punya tempat Sanggar Masigaro, ayo silahkan teman-teman mau dari Aceh, mau dari Bali, mau dari mana saja yang mau melestarikan tarian budaya kalian, ayo kesini, kita sudah siapkan tempatnya,” kata Saddam. 

Kini, sekitar 26 orang telah bergabung dengan Sanggar Masigaro dan berlatih rutin sekali seminggu. Mereka membawa pengalaman serta pengetahuan tentang kesenian dari daerah masing-masing, sekaligus belajar bersama melalui tari. 

Dalam waktu dekat, sembilan penari Sanggar Masigaro berencana membawakan Tari Soya-Soya di Festival Harmoni Obi pada 24–25 Oktober 2026. 

Tari Soya-Soya memiliki ciri khas dari gerakan, kostum, hingga perlengkapan yang digunakan para penarinya.(Dok. Istimewa)

Festival tahunan yang berpusat di Desa Kawasi ini menghadirkan pertunjukan budaya, bazar UMKM, turnamen memancing dan kegiatan makan bersama masyarakat. 

Saddam berharap sanggar Masigaro bisa menjadi ruang bagi para karyawan untuk terus mengenal dan melestarikan kesenian tradisional, sekaligus mempertemukan orang-orang dari berbagai daerah melalui kecintaan terhadap budaya. Ia berharap semangat tersebut dapat terus tumbuh, bahkan ketika dirinya tak lagi berada di sana. 

“Melestarikan budaya itu sebenarnya bisa dimulai dari diri kita sendiri. Sesibuk apa pun kita, jangan sampai lupa dengan budaya daerah kita sendiri. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?” pungkas Saddam.***

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com