Suara.com - Kelompok Tani Milenial Sinergi Pembangunan Negeri di Desa Buton, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, menggelar panen perdana padi pada Senin (7/9/2026). Dari lahan seluas 12,5 hektare, produktivitas panen mencapai sedikitnya 8,3 ton per hektare berdasarkan hasil ubinan tim pendamping. Panen tersebut merupakan hasil kolaborasi kelompok tani bersama Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan dan dunia usaha.
“Alhamdulillah, kita bisa panen sekarang. Dengan berkat dari pemerintah kabupaten, bersama perusahaan Harita Nickel, mereka selalu mendampingi kami. Akhirnya sekarang kami masih bisa panen,” kata Ketua Kelompok Tani Milenial Sinergi Pembangunan Negeri, Ruslan Kasman.
Hasil panen tersebut tidak diperoleh dengan mudah. Beberapa hari setelah penanaman pertama, hujan deras membuat lahan pertanian mereka terendam banjir. Tanaman padi yang baru tumbuh pun mati sehingga para petani harus kembali menanam dari awal.
“Awal kemarin penanaman, pas penanaman sekitar tiga hari atau empat hari, tiba-tiba hujan besar, terus lahan kita sudah terendam banjir,” ujar Ruslan.
Setelah penanaman kembali, tantangan berikutnya datang ketika hujan tidak turun selama sekitar dua bulan. Kondisi tersebut membuat ketersediaan air menjadi persoalan bagi tanaman yang sedang tumbuh.
Untuk menjaga sawah tetap terairi, pemerintah daerah membantu menyediakan dua unit pompa air. Para petani juga melakukan berbagai upaya di lapangan untuk mengatur aliran air agar kebutuhan tanaman tetap terpenuhi hingga masa panen.
Bagi Ruslan dan anggota kelompoknya, rangkaian kondisi tersebut sempat membuat mereka kecewa. Namun, mereka memilih melanjutkan budidaya hingga akhirnya dapat memanen hasilnya.
Ruslan berharap pendampingan dari pemerintah kabupaten dan Harita Nickel dapat terus berlanjut agar kelompok tani yang baru berkembang tersebut semakin mampu mengelola pertanian secara mandiri.
“Saya berharap kepada pemerintah kabupaten, bersama dari pihak Harita Nickel, jangan pernah bosan-bosan untuk melihat kami atau mendampingi kami ke depan nanti. Karena kita, kelompok petani milenial, ini kan ibarat jagung yang baru tumbuh,” kata Ruslan.
Bagi Ketua Komunitas Perintis Kedaulatan Pangan Pulau Obi (Pelangi), Darwan Aduhasan, pengalaman para petani milenial di Desa Buton menunjukkan bahwa pertanian memiliki ruang untuk terus berkembang di Pulau Obi.
Darwan juga ingin mengubah pandangan bahwa profesi petani identik dengan keterbatasan ekonomi. Menurut dia, petani di Pulau Obi memiliki peluang untuk membangun masa depan melalui sektor pertanian, sekaligus memastikan ketersediaan pangan bagi generasi berikutnya.
“Kami meyakini bahwa petani itu bukan seperti yang banyak orang pikir bahwa petani itu miskin, Pak. Tapi kita ini petani yang memiliki masa depan yang akan datang. Dan hari ini kita petani bukan cuma untuk kita, Pak, bukan hanya untuk kaum tua, tetapi untuk generasi yang akan datang, bahkan sampai untuk anak cucu kita,” tandasnya.
Dari sisi pemerintah daerah, panen perdana tersebut menunjukkan hasil dari kolaborasi antara petani, pemerintah, dan pihak swasta. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Halmahera Selatan Suryatmi Aldjokja menyampaikan apresiasi kepada Harita Nickel yang terus mendampingi petani di lapangan.
“Untuk perusahaan dalam hal ini Harita Nickel, terima kasih kami ucapkan yang masih terus dan setia mendampingi para petani kita di lapangan dalam program-program CSR-nya, dan kami berharap kolaborasi dan sinergitas ini tetap berlangsung sampai petani-petani kita ini mungkin merasa peningkatan ekonominya itu benar-benar meningkat,” kata Suryatmi.
Pengembangan pertanian di Desa Buton merupakan bagian dari Sentra Ketahanan Pangan Obi (SENTANI), program pemberdayaan masyarakat yang diinisiasi Harita Nickel untuk mendukung penguatan ketahanan pangan dan kapasitas ekonomi masyarakat di Pulau Obi.
Selain Kelompok Tani Milenial Sinergi Pembangunan Negeri, SENTANI menaungi Kelompok Tani Ake Moriri dan Kelompok Tani Putih Putih. Secara kumulatif, ketiga kelompok tersebut mengelola sekitar 30 hektare sawah.
Melalui program tersebut, pendampingan dilakukan mulai dari bimbingan teknis budidaya dan penyediaan sarana produksi pertanian hingga penguatan kelembagaan dan akses pasar. Hasil pertanian juga diarahkan untuk memiliki pasar yang lebih luas dengan melibatkan BUMDes sebagai penyerap produk petani, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pangan Harita Nickel.
Panen perdana ini menjadi pijakan bagi para petani milenial di Desa Buton untuk melanjutkan musim tanam berikutnya. Setelah melewati banjir, menanam kembali, dan menghadapi periode tanpa hujan, hasil panen tersebut menunjukkan apa yang dapat dicapai ketika petani, pemerintah daerah, dan pihak swasta bekerja bersama mengembangkan pertanian di Pulau Obi. ***