Vietnam Lebih Maju, Kapal Tanker RI Kebanyakan Impor

Selasa, 20 Oktober 2026 | 18:35 WIB
ilustrasi Kapal Tanker. [DOK. PT Pertamina Patra Niaga]
BACA 10 DETIK
  • Menperin Muhammad Sarmuji menyatakan Indonesia masih mengimpor kapal tanker besar dari Vietnam karena keterbatasan teknologi domestik.
  • Pemerintah menargetkan galangan kapal nasional mampu memproduksi kapal hingga 60.000 DWT melalui peta jalan tahun 2026–2030.
  • Pertamina diharapkan menjadi penyerap pasar agar pelaku usaha dalam negeri meningkatkan investasi dan kapasitas produksi kapal.

Suara.com - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mengakui kemampuan industri perkapalan Indonesia masih tertinggal dari Vietnam, terutama dalam produksi kapal tanker berukuran besar.

Menurutnya, Indonesia masih mengimpor sejumlah kapal tanker dari negara tersebut untuk memenuhi kebutuhan armada nasional.

Sarmuji menjelaskan, Vietnam telah memiliki kemampuan teknologi dan kapasitas untuk membangun kapal tanker berukuran besar. Sementara itu, industri galangan kapal dalam negeri masih perlu meningkatkan kemampuan produksi agar bisa memenuhi kebutuhan kapal dengan spesifikasi serupa.

"Vietnam bisa produksi kapal tanker besar. Jadi banyak kebutuhan kapal kita, kapal tanker khususnya, itu diimpor dari Vietnam. Mereka sudah canggih dan produksi kapal yang jenisnya besar," kata Sarmuji di Kantor Kemenperin, Selasa (20/10/2026).

Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji. [Suara.com/Yaumal Asri Adi Hutasuhut].

Sarmuji mengatakan, saat ini Indonesia memiliki 342 perusahaan galangan kapal yang tersebar di lebih dari 29 provinsi dan 70 kabupaten/kota. Selain itu, terdapat 127 perusahaan komponen kapal yang sekitar 90 persennya merupakan usaha kecil dan menengah (UKM).

Industri galangan kapal nasional menyerap sekitar 37.000 tenaga kerja, sedangkan industri komponen kapal menyerap sekitar 6.000 tenaga kerja.

Meski memiliki basis industri tersebut, Sarmuji menilai solusinya bukan sekadar menambah jumlah galangan kapal. Pemerintah juga perlu mendorong peningkatan kapasitas produksi, kualitas, produktivitas, kecepatan pengerjaan, dan penguasaan teknologi.

"Tantangan kita sekarang bukan hanya menambah jumlah galangan, tetapi memastikan kapasitas, mutu, produktivitas, kecepatan waktu, dan kemampuan teknologi meningkat secara konsisten," ungkapnya.

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap kapal impor, Sarmuji menyebut pihaknya tengah menyiapkan peta jalan industri perkapalan nasional. Salah satu arah pengembangannya adalah meningkatkan kapasitas galangan kapal agar mampu membangun kapal berukuran lebih besar.

Pada periode 2026–2030, galangan kapal di luar Pulau Jawa diarahkan mampu membangun kapal hingga 30.000 deadweight tonnage (DWT). Sementara itu, galangan di Pulau Jawa dan Batam ditargetkan mampu membangun kapal hingga 50.000 DWT.

Kapasitas pembangunan kapal tanker juga ditargetkan mencapai 60.000 DWT. Target tersebut diharapkan memperkuat kemampuan industri domestik dalam memenuhi kebutuhan armada nasional.

Selain itu, Sarmuji menilai insentif dapat menjadi salah satu cara untuk mendorong penggunaan kapal buatan dalam negeri. Ia mencontohkan kemungkinan pemberian insentif melalui tarif sewa kapal tanker produksi nasional yang lebih tinggi dibandingkan kapal impor.

Menurut dia, Pertamina dapat berperan sebagai penyerap pasar atau offtaker bagi kapal tanker buatan galangan domestik. Kepastian permintaan tersebut diharapkan mendorong pelaku usaha meningkatkan investasi dan kapasitas produksi.

"Kalau orang tertarik mengambil kapal dalam negeri, otomatis galangan-galangan kapal kita pasti akan bersiap untuk membuat kapal-kapal tanker ini," pungkas Sarmuji.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com