- Harga minyak mentah dunia naik pada 21 Oktober 2026 akibat konflik Timur Tengah dan penurunan stok AS.
- Kontrak Brent naik ke 109,48 dolar AS dan WTI naik ke 98,46 dolar AS per barel pada perdagangan pagi.
- Persediaan minyak mentah AS anjlok 4,93 juta barel, melampaui estimasi analis pasar yang hanya 1,3 juta barel.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia merangkak naik pada perdagangan Rabu (21/10/2026) pagi. Penguatan dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Arab Saudi, dan milisi Houthi Yaman serta laporan penurunan signifikan pada stok minyak mentah Amerika Serikat (AS).
Mengutip dari Investing.com, kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Desember menguat 0,6 persen ke level 109,48 dolar AS per barel pada pukul 20.14 ET (00.14 GMT).
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November naik 0,65 persen menjadi 98,46 dolar AS per barel.
Sebelumnya, Brent sempat melonjak ke level tertinggi dalam lima bulan pada Selasa (20/10/2026), sebelum akhirnya terkoreksi tipis setelah pejabat Iran terlihat melangsungkan pertemuan dengan mediator di Pakistan.
Namun, harapan diplomasi kembali tertahan setelah pihak Iran menegaskan kepada Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan bahwa tidak akan ada perundingan dengan Washington sebelum tuntutan Teheran dipenuhi.
Di saat yang sama, Iran memperketat serangan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz dalam dua pekan terakhir, yang mengakibatkan lalu lintas kapal di jalur vital energi dunia tersebut melambat drastis.
Kekhawatiran gangguan pasokan kian diperparah oleh berlanjutnya konfrontasi militer antara Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman yang disokong Iran, menyusul serangan milisi tersebut ke sejumlah fasilitas infrastruktur minyak milik Arab Saudi.
Dari sisi konsumsi, data American Petroleum Institute (API) mencatat persediaan minyak mentah AS menyusut lebih dalam dari perkiraan pasar.
Stok minyak AS tercatat anjlok sebesar 4,93 juta barel pada pekan yang berakhir 16 Oktober 2026. Angka penurunan ini jauh melampaui estimasi analis yang memperkirakan pemangkasan sebesar 1,3 juta barel.
Penurunan tajam dalam tiga pekan terakhir ini dipengaruhi oleh terganggunya produksi di kawasan Pesisir Teluk (Gulf Coast) akibat paparan Badai Isaias.
Data API umumnya menjadi indikator awal bagi laporan resmi persediaan energi yang dirilis Pemerintah AS (EIA) pada Rabu waktu setempat.
Di saat bersamaan, Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS dilaporkan berada pada level terendah dalam 44 tahun terakhir, dampak dari pelepasan cadangan darurat secara beruntun guna menopang defisit pasokan global.