- BEI menilai short selling belum memicu tekanan IHSG karena transaksinya masih terbatas.
- Short selling berpotensi memperbesar koreksi, tetapi bukan penyebab utama IHSG anjlok.
- Investor perlu mencermati fundamental, valuasi, dan likuiditas sebelum membeli saham yang terkoreksi.
Suara.com - Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah gejolak pasar saham memunculkan kekhawatiran terhadap aktivitas short selling. Strategi transaksi yang memungkinkan investor meraih keuntungan saat harga saham turun ini dinilai berpotensi memperbesar tekanan jual. Namun, benarkah short selling menjadi biang kerok anjloknya IHSG?
Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Iding Pardi menegaskan, aktivitas short selling di pasar modal Indonesia masih sangat terbatas, baik dari sisi penerapan maupun nilai transaksinya. Karena itu, menurutnya, mekanisme tersebut belum menjadi pemicu tekanan terhadap pasar saham.
"Penerapan short selling masih sangat terbatas. Transaksinya pun masih kecil. Jadi tidak menjadi pemicu tekanan terhadap pasar," ujar Iding Pardi saat dihubungi Suara.com.
Meski demikian, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji menilai short selling tetap berpotensi memperbesar tekanan jual, terutama ketika pasar saham mengalami koreksi tajam dan sentimen investor memburuk.
Menurutnya, transaksi tersebut dapat menambah volatilitas harga saham, khususnya pada saham dengan likuiditas terbatas. Dalam kondisi pasar yang rapuh, transaksi jual dalam jumlah tertentu dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap pergerakan harga.
"Mekanismenya, investor dapat menjual saham yang dipinjam dengan harapan membelinya kembali pada harga yang lebih rendah. Namun, besarnya dampak terhadap pasar sangat bergantung pada likuiditas saham, besaran transaksi, kondisi fundamental emiten, serta efektivitas pengawasan dan penerapan aturan oleh BEI," ujar Nafan kepada Suara.com.
Tekanan Jual Bisa Memicu Efek Berantai
Nafan menjelaskan, risiko short selling semakin perlu diperhatikan ketika IHSG berada dalam tren pelemahan. Penurunan harga yang menembus level teknikal tertentu dapat memicu investor lain melakukan cut loss untuk membatasi kerugian.
Kondisi tersebut berpotensi menciptakan efek berantai. Tekanan jual awal dapat mendorong harga turun lebih dalam, kemudian memicu aksi jual lanjutan dari investor yang khawatir terhadap prospek pasar.
"Dalam kondisi IHSG melemah tajam, short selling juga berpotensi menimbulkan efek berantai atau feedback loop, terutama ketika tekanan jual memicu penembusan level support teknikal dan meningkatkan kepanikan investor," katanya.
Namun, dampak tersebut tidak terjadi secara otomatis. Besarnya pengaruh short selling terhadap harga saham bergantung pada nilai transaksi, likuiditas, kondisi fundamental emiten, serta efektivitas pengawasan dan penegakan aturan di pasar modal.
Bukan Satu-satunya Penyebab IHSG Anjlok
Di tengah tekanan pasar, Nafan mengingatkan agar aktivitas short selling tidak langsung dianggap sebagai penyebab utama kejatuhan IHSG. Pergerakan indeks juga dipengaruhi berbagai faktor lain, termasuk arus keluar dana asing dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Arus keluar dana asing dapat menekan saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot signifikan terhadap indeks. Sementara itu, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan kekhawatiran investor terhadap risiko makroekonomi, termasuk beban perusahaan yang memiliki kewajiban dalam valuta asing.
Dalam situasi tersebut, short selling lebih berpotensi menjadi faktor yang memperbesar tekanan yang sudah ada, terutama pada saham dengan likuiditas terbatas atau valuasi yang dinilai terlalu tinggi.
"Di tengah kondisi tersebut, short selling lebih berpotensi menjadi faktor amplifikasi, khususnya pada saham yang likuiditasnya terbatas atau memiliki valuasi yang dinilai terlalu tinggi, ketimbang menjadi penyebab utama pelemahan pasar secara keseluruhan," imbuhnya.
Dengan demikian, pelemahan IHSG perlu dilihat secara menyeluruh dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi, arus modal, sentimen investor, serta fundamental perusahaan. Mengaitkan kejatuhan indeks hanya dengan satu jenis transaksi berisiko mengaburkan persoalan utama yang sedang dihadapi pasar.
Investor Tak Perlu Otomatis Menghindari Saham Sasaran Short Selling
Di tengah volatilitas pasar, investor juga tidak perlu serta-merta menghindari seluruh saham yang dapat menjadi sasaran short selling. Menurut Nafan, hal terpenting adalah memahami penyebab penurunan harga dan menilai apakah koreksi tersebut mencerminkan perubahan fundamental perusahaan atau sekadar tekanan sentimen jangka pendek.
Investor disarankan memperhatikan valuasi saham, prospek laba, arus kas, tingkat utang, likuiditas perdagangan, serta katalis yang berpotensi mendorong pemulihan kinerja emiten.
Saham yang turun tajam belum tentu murah. Jika penurunan harga disertai memburuknya kinerja keuangan, prospek bisnis yang melemah, atau meningkatnya risiko utang, harga yang lebih rendah tidak otomatis menjadi peluang investasi.
Sebaliknya, saham yang terkoreksi akibat sentimen pasar tanpa perubahan berarti pada fundamental perusahaan perlu dinilai secara berbeda.
"Investor sebaiknya memperhatikan valuasi, prospek laba, arus kas, tingkat utang, likuiditas perdagangan, serta katalis pemulihan emiten," bebernya.
Dalam kondisi pasar yang masih bergejolak, pembelian saham secara bertahap dan diversifikasi portofolio dapat menjadi pendekatan yang lebih berhati-hati dibandingkan langsung mengambil posisi besar hanya karena harga saham telah turun dalam.
Short Selling Tak Selalu Buruk bagi Pasar
Di balik risiko tekanan jual, short selling juga memiliki fungsi dalam pembentukan harga saham. Mekanisme ini memungkinkan investor mengekspresikan pandangan negatif terhadap valuasi suatu emiten, sehingga harga saham berpeluang menyesuaikan diri dengan prospek bisnis dan kondisi fundamentalnya.
Dalam situasi ketika harga saham dinilai terlalu tinggi dibandingkan nilai wajarnya, transaksi yang mencerminkan ekspektasi penurunan harga dapat membantu proses penyesuaian valuasi.
Karena itu, dampak short selling terhadap pasar tidak bisa dinilai hanya dari potensi tekanan jualnya. Pengaruhnya juga bergantung pada transparansi transaksi, likuiditas pasar, serta efektivitas pengawasan regulator.
Bagi investor, tanda-tanda pemulihan pasar perlu dicermati melalui sejumlah indikator, seperti meredanya tekanan jual agresif, membaiknya market breadth atau jumlah saham yang menguat dibandingkan yang melemah, serta meningkatnya volume pembelian ketika indeks mendekati area support.
Nafan menilai, sinyal pemulihan yang lebih meyakinkan terlihat ketika indeks mulai membentuk pola higher low, volume pembelian meningkat, dan penguatan terjadi secara lebih merata di berbagai sektor.