- Nilai tukar rupiah merosot ke level Rp18.052 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026.
- Pelemahan rupiah disebabkan oleh keputusan Bank Indonesia yang tidak menaikkan tingkat suku bunga.
- Analis memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah, sementara pergerakan mata uang Asia terpantau bervariasi.
Suara.com - Mata uang garuda terus tertekan di pasar keuangan. Alhasil, rupiah terus merosot ke level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pagi ini.
Berdasarkan data Bloomberg, Kamis (22/10/2026), rupiah dibuka ke level Rp18.052 dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini melemah 30 poin atau turun 0,17 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.022.
Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan ini dikarenakan respon Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunganya.
"Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS setelah BI diluar perkiraan tidak menaikkan tingkat suku bunga kemarin," katanya saat dihubungi Suara.com.
Dia menambahkan, fokus investor masih pada sentimen di pasar ekuitas yang apabila kembali membaik dapat menahan perlemahan atau bahkan menguatkan rupiah.
"Investor juga mencermati laporan atau rumor mengenai potensi kesepakatan damai Iran-AS. Range rupiah ada dikisaran Rp17.850-Rp18.000," jelasnya.
Sementara itu, pergerakan mata uang di Asia bervariasi. Di mana, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,27 persen.
Selanjutnya, ada peso Filipina tertekan 0,05 persen. Disusul, ringgit Malaysia dan dolar Singapura yang sama-sama terkoreksi 0,03 persen. Berikutnya, yuan China yang menguat tipis 0,006 persen terhadap the greenback.
Sedangkan, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melesat 0,11 persen. Diikuti, baht Thailand terangkat 0,04 persen. Kemudian, yen Jepang naik 0,02 persen dan dolar Hong Kong yang menguat tipis 0,01 persen di pagi ini.