Tekan Emisi, PLN Indonesia Power Uji Co-Firing Hidrogen-Amonia

Rabu, 28 Oktober 2026 | 13:20 WIB
Ilustrasi PLN. (Antara)
BACA 10 DETIK
  • PT PLN Indonesia Power menguji coba penggunaan bahan bakar campuran hidrogen dan amonia pada fasilitas pembangkitnya.
  • Pengujian di PLTDG Pesanggaran menunjukkan peningkatan efisiensi mesin serta pengurangan emisi karbon dan bahan bakar fosil.
  • Uji coba di PLTU Labuan berhasil menghemat konsumsi batu bara dan menurunkan emisi karbon secara signifikan.

Suara.com - PT PLN Indonesia Power (PLN IP) menguji coba penggunaan bahan bakar campuran (co-firing) hidrogen dan amonia pada fasilitas pembangkit listriknya.

Langkah ini dilakukan untuk menekan emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi operasional pembangkit.

Pengujian co-firing hidrogen diterapkan di Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Gas (PLTDG) Pesanggaran dengan mencampurkan gas hidrogen ke dalam gas alam.

Pencampuran bahan bakar tersebut dilakukan secara bertahap, dimulai dari rasio 2 persen pada 2022, naik menjadi 7 persen pada 2024, hingga mencapai 23 persen pada 2025.

Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, menyatakan bahwa pengembangan teknologi bahan bakar alternatif ini merupakan bagian dari strategi transisi energi yang terukur tanpa mengabaikan keandalan pasokan listrik.

"Pengujian co-firing hidrogen dan amonia menjadi langkah PLN Indonesia Power dalam mengembangkan alternatif bahan bakar yang berpotensi menekan emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi pembangkitan," kata Bernadus dalam keterangan tertulisnya yang dikutip pada Rabu (28/10/2026).

Ilustrasi PLTU. (Freepik)

Dari hasil pengujian di PLTDG Pesanggaran, penggunaan hidrogen tercatat berpotensi meningkatkan efisiensi mesin hingga 5 persen, mengurangi penggunaan bahan bakar fosil sebesar 17 persen, serta menekan emisi karbon hingga 9.600 ton CO per tahun.

Selain hidrogen, PLN IP juga menguji co-firing amonia dengan mencampurkan amonia ke dalam bahan bakar batu bara pada boiler Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Labuan.

Pada uji coba dengan rasio amonia 1 persen, efisiensi PLTU tercatat meningkat 1,3 persen. Skema ini berpotensi menghemat konsumsi batu bara sebanyak 19.700 ton per tahun dan mengurangi emisi tahunan hingga 35.000 ton CO.

Untuk menjaga pasokan bahan baku amonia hijau, perusahaan berencana memanfaatkan kelebihan pasokan (ekses) hidrogen yang dihasilkan dari tiga fasilitas pembangkit lain, yakni PLTGU Cilegon, PLTGU Priok, dan PLTGU Tambak Lorok.

"Transisi energi membutuhkan inovasi yang dapat diterapkan secara bertahap, terukur, dan tetap mengedepankan keandalan pasokan listrik," kata Bernadus

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com