Harga Emas Turun, Bisnis Perhiasan Masih Dibayangi Daya Beli

Rabu, 28 Oktober 2026 | 15:47 WIB
Calon pembeli memilih perhiasan emas di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta, Rabu (8/1/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
BACA 10 DETIK
  • Permintaan perhiasan membaik saat emas turun, tetapi rentan terhadap daya beli.
  • Harga referensi emas turun 3,15%, belum tentu harga perhiasan ikut turun.
  • APPI berharap Bea Keluar emas berlanjut untuk mendukung hilirisasi industri.

Suara.com - Industri perhiasan nasional masih menghadapi tantangan menjaga permintaan di tengah ketidakpastian daya beli masyarakat. Meski permintaan mulai membaik seiring penurunan harga emas, pelaku usaha mengingatkan bahwa perhiasan merupakan barang tersier yang pembeliannya rentan berubah mengikuti kondisi ekonomi.

Wakil Ketua Asosiasi Produsen Perhiasan Indonesia (APPI) Arief Budiman mengatakan, pergerakan harga emas menjadi salah satu faktor yang memengaruhi permintaan perhiasan di dalam negeri. Penurunan harga bahan baku dapat mendorong konsumen kembali berbelanja, sedangkan kestabilan harga berpotensi menopang permintaan.

"Selama ini karena harga emas bahan bakunya turun, permintaan perhiasan justru malah membaik, malah naik. Pada saat harga itu stabil, permintaan perhiasan itu akan naik," kata Arief di Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Rabu (28/10/2026).

Namun, perbaikan permintaan tersebut belum serta-merta menghilangkan risiko bagi industri. Daya beli masyarakat tetap menjadi faktor penentu karena konsumen dapat menunda pembelian perhiasan ketika pengeluaran rumah tangga lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan utama.

"Namun perlu kita ingat bahwa perhiasan itu kan barang tersier, bukan satu barang yang istilahnya tanpa perhiasan orang nggak bisa, masih tetap bisa hidup kan," ujarnya.

Berdasarkan data harga referensi emas yang ditetapkan Kementerian Perdagangan (Kemendag) memang mengalami penurunan. Pada periode 15–31 Oktober 2026, harga referensi emas tercatat US$4.199,73 per troy ounce, turun 3,15% dibandingkan periode 1–14 Oktober 2026 yang mencapai US$4.336,11 per troy ounce.

Meski demikian, penurunan harga emas dunia tidak otomatis membuat harga perhiasan di toko turun dengan persentase serupa. Harga jual kepada konsumen juga ditentukan oleh kadar emas, ongkos pembuatan, desain, serta margin penjual.

Di tengah tantangan permintaan, APPI turut menyoroti pentingnya ketersediaan bahan baku bagi produsen perhiasan nasional. Asosiasi menilai kebijakan Bea Keluar atas bahan baku emas dapat mendukung pengolahan di dalam negeri dan membuka peluang bagi produsen lokal untuk mengembangkan produk jadi.

Arief berharap kebijakan tersebut terus diberlakukan agar agenda hilirisasi industri emas dapat berjalan sesuai harapan pemerintah.

"Dan kita sangat kompetitif di dunia internasional. Kami berharap peraturannya terus berjalan, Bea Keluar ini terus diberlakukan, maka dengan demikian hilirisasi di Indonesia ini tercapai sesuai dengan cita-cita Presiden," pungkasnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com