PDB Per Kapita Vietnam Diproyeksi Salip Indonesia, Bukti Ekonomi RI Tertinggal?

Minggu, 01 November 2026 | 15:15 WIB
Bendera Vietnam dan Bendera Merah Putih [Suara.com]
BACA 10 DETIK
  • IMF memproyeksikan PDB per kapita nominal Vietnam mencapai US$5.259 pada 2026, melampaui Indonesia sebesar US$5.153.
  • Lompatan ekonomi Vietnam didorong oleh transformasi berorientasi ekspor serta lonjakan penanaman modal asing langsung di sektor manufaktur.
  • Indonesia menghadapi tantangan kualitas investasi dan pelemahan rupiah, meski sukses menarik modal di sektor kendaraan listrik.

Suara.com - Vietnam diperkirakan melampaui Indonesia dalam produk domestik bruto (PDB) per kapita pada 2026. Proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) menempatkan PDB per kapita nominal Vietnam di level US$5.259, naik 8,9% dari tahun sebelumnya. Angka itu unggul tipis dari proyeksi untuk Indonesia, yakni US$5.153.

Selisihnya sekitar US$106, atau 2,1%. Meski tipis, posisi ini membuat Vietnam menempati peringkat kelima di ASEAN berdasarkan indikator tersebut, persis di bawah Thailand. Laporan The Nation Thailand yang terbit pada Sabtu (31/10/2026) menyebut PDB per kapita Vietnam nyaris berlipat dua dalam satu dekade terakhir.

Lompatan itu bertumpu pada transformasi ekonomi berorientasi ekspor. Vietnam membaca peluang dari penataan ulang rantai pasok global dan menawarkan diri sebagai basis produksi alternatif di luar Tiongkok.

Arus modal pun mengalir, terutama ke sektor elektronik, semikonduktor, dan manufaktur berteknologi tinggi. Samsung Electronics (Korea Selatan) dan Foxconn (Taiwan) termasuk perusahaan global yang terus memperluas fasilitas produksi di negara itu untuk melayani pasar dunia.

Pada Januari–September 2026, realisasi penanaman modal asing langsung (foreign direct investment/FDI) Vietnam naik 12% secara tahunan menjadi US$21,1 miliar. Nilai proyek baru yang terdaftar melonjak 76% menjadi US$50,3 miliar, tanda bahwa investor global masih melihat Vietnam sebagai lokasi produksi yang menarik.

Perluasan industri pengolahan ikut mengerek ekspor. Selama sembilan bulan pertama 2026, nilai ekspor Vietnam mencapai US$434 miliar, naik 25% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Integrasi yang kian dalam dalam rantai pasok global, khususnya untuk elektronik dan barang manufaktur, tampak dari angka ini.

Gambaran serupa terlihat dalam hubungan dagang dengan Amerika Serikat (AS). Menurut statistik perdagangan AS, defisit neraca barang AS terhadap Vietnam menyentuh US$160 miliar dalam delapan bulan pertama 2026, lebih besar daripada defisitnya terhadap Tiongkok maupun Meksiko.

Pemerintah Vietnam menargetkan pertumbuhan ekonomi minimal 10% pada 2026. Target itu didukung capaian kuartal III-2026 sebesar 9,95% secara tahunan, yang menurut laporan Bloomberg yang dikutip The Nation Thailand merupakan laju tercepat sejak kuartal III-2022. Untuk periode Januari–September, ekonomi Vietnam tumbuh 9,01%, dengan industri pengolahan tumbuh 11,36% menurut data yang dilansir Vietnam News. Karena itu, target 10% setahun penuh mensyaratkan pertumbuhan di atas 10% pada kuartal terakhir.

Peneliti senior Institute of Developing Economies, Mai Fujita, menilai investasi pemerintah turut menopang ekspansi tersebut. "Investasi publik yang proaktif merupakan faktor utama yang mendukung pertumbuhan ekonomi," ujar Fujita sebagaimana dikutip The Nation Thailand.

Bagaimana dengan Indonesia?

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi tumbuh 5,61% pada kuartal I-2026 dan 5,29% pada kuartal II-2026. 

Untuk ke depan, IMF dalam World Economic Outlook edisi Oktober 2026 memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1% pada 2026 dan 2027. Untuk Vietnam, IMF dan Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan laju sekitar 7,5% pada 2027, menurut The Nation Thailand.

Tantangan Indonesia: Kualitas Investasi

Indonesia bukan tanpa modal. Negara ini sukses menarik investasi besar di industri kendaraan listrik dan pengolahan mineral. Persoalannya, pertumbuhan sekitar 5% per tahun masih tertinggal dari laju Vietnam.

Tantangan utamanya adalah memastikan investasi yang masuk membuka lapangan kerja luas dan mendongkrak pendapatan rumah tangga. Investasi padat modal, termasuk di sektor kendaraan listrik, tidak otomatis menghasilkan penyerapan tenaga kerja dan kenaikan pendapatan yang sepadan dengan nilai modal yang ditanamkan.

Faktor nilai tukar juga berpengaruh. Karena PDB per kapita dihitung dalam dolar AS, pelemahan rupiah menekan angkanya. Kurs rupiah tercatat sekitar Rp18.142,7 per dolar AS pada 27 Oktober 2026 menurut Databoks Katadata.

Perbedaan kinerja kedua negara ini menunjukkan pentingnya memperkuat industri manufaktur, meningkatkan produktivitas, dan memperluas ekspor bernilai tambah tinggi.

PDB per kapita nominal dalam dolar AS tetap punya batas. Indikator ini dipengaruhi pergerakan kurs, belum memperhitungkan perbedaan biaya hidup, dan tidak menggambarkan distribusi pendapatan.

Proyeksi Vietnam melampaui Indonesia tidak otomatis berarti daya beli atau kesejahteraan seluruh penduduk Vietnam sudah lebih tinggi. Selisih US$106 pun terbilang kecil dan masih berupa proyeksi yang dapat direvisi.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com