/
Rabu, 03 Agustus 2022 | 09:59 WIB
ilustrasi bentrok suporter - pixabay

Konflik suporter sepakbola yang tak kunjung padam dan sudah merembet ke permasalahan lebih luas sebenarnya bisa diantisipasi atau dicegah jika budaya yang salah tak dilestarikan.

Satu contoh budaya  salah yang dibiarkan  misalnya secara diam-diam tanpa alasan yang jelas dan setelah itu kabur. Fenomena yang sangat sering muncul akhir-akhir ini.

Kondisi ini tentu sebenarnya juga salah satu hasil negatif saat sosial media dijadikan sebagai tempat untuk melakukan ujaran kebencian dan permusuhan.

Budaya-budaya negatif tersebut di atas sebenarnya mau tak mau, suka tak suka harus segera dihilangkan dari identias suporter Indonesia saat ini.

Lantas bagaimana caranya? Cara paling mudah ialah menumbuhkan rasa empati dan kembali ruh suporter itu sendiri. 

Hal itu bisa terlaksana jika ada kesadaran kolektif yang sifatnya positif dari masing supporter agar tidak melakukan tindakan–tindakan konyol dan vandal, terhadap rivalnya. 

Yang harus diingat untuk menumbukan empati ialah bahwa manusia merupakan mahluk yang mengedepankan mind, self, dan society atau bahasa familiarnya ialah akal budi.  Itu yang dikatakan oleh Robert Herber Mead seorang sosiolog. 

Kesadaran untuk lebih mengedapankan akal budi menjadi penting agar tak melihat sesamanya sebagai benda mati. 

Baca Juga: PSS Sleman Umumkan Satu Suporter Meninggal Dunia, Warganet: Tidak ada Sepak Bola Seharga Nyawa Manusia

Load More