Badannya tinggi besar dengan kulit hitam legam. Ia turun ke lapangan memasuki menit akhir pertandingan Peru vs Argentina di Estadio Nacional pada 24 Mei 1964. Publik Peru menjuluk sosok itu dengan sebutan Negro Bomba.
Nama aslinya adalah Víctor Vásquez. Ia turun ke lapangan berusaha untuk wasit asal Uruguay, Angel Eduardo Pazos dengan pecahan botol. Vasquez kemudian memprovokasi suporter lain untuk turun dari tribun penonton.
Vásquez kesal karena wasit Pazos menganulir gol penyama kedudukan yang dicetak oleh pemain Peru Victor Lobaton. Aksi Vasquez berhasil dicegah aparat kepolisian.
Dari aksi Negro Bomba inilah kondisi makin memburuk. Kemarahan suporter tuan ruamh tak bisa dihindarkan. Hal ini diperparah dengan keputusan Panpel menghentikan pertandingan karena merasa tidak ada jaminan keamanan.
Situasi semakin memburuk saat Komandan Polisi Jorge Azambuja memerintahkan anggotanya tembakan gas air mata ke arah tribun utara Stadion.
Menurut Azambuja seperti dikutip dari larepublica, ia mengambil keputusan itu setelah melihat sejumlah suporter di tribun meleparkan pecahan botol ke arah lapangan.
Selanjutnya pecah insiden berdarah yang tidak bisa dibayangkan. 320 orang tewas, kebanyakan karena kehabisan nafas dan terinjak-injak. Sementara 4000 lainnya luka-luka.
Negro Bomba si Pemicu Kerusuhan
Víctor Melesio Vásquez Campos ialah pria yang tinggal di distsrik Brena. Saat tragedi Estadio Nacional, usianya 29 tahun.
Baca Juga: Tewaskan 328 Suporter, Bencana Terbesar Sepak Bola di Peru juga Disebabkan Gas Air Mata
Menurut laporan jurnalis Peru, Roberto Salinas, Bomba sempat menjadi penjaga keamanan di lapangan olahraga milik Angkatan Udara Peru.
Di wilayah tempat tinggalnya, Bomba dikebal sebagai sosok yang beringas dan suka berkelahi. Ia juga disebut selalu membawa senjata ke manapun pergi.
Julukan Negro Bomba disematkan sendiri oleh Vásquez. Masa mudanya dihabiskan sebagai penjual dan pecandu narkoba. Ia juga disebut-sebut sebagai salah satu penjaga rumah bordil di Peru.
Bomba sendiri tidak menjadi korban tewas, ia kemudian ditangkap dan didakwa oleh kepolisian Peru dengan tuduhan menghasut kerusuhan dan ganggu ketertiban umum.
Bomba meninggal pada 14 Maret 1999. Sebelum wafat, ia sempat mengakui bahwa dirinya memang berniat untuk memukul wasit tapi ia tak pernah menyangka bahwa kemudian terjadi tragedi berdarah yang tewaskan 360 orang.
"Saya memang ingin mengejarnya tetapi saya ditahan polisi. Saya masuk ke lapangan dan suporter lain mengikuti," ucapnya di salah satu TV Peru saat mengenang 52 tahun tragedi Estadion Nacional.
Berita Terkait
-
Pengakuan Komandan Polisi Soal Tembakan Gas Air ke Arah Tribun Penonton: Saya yang Perintahkan!
-
Alasan Gunakan Gas Air Mata ketika Buburkan Suporter di Kanjuruhan, Polri : Untuk Membela Diri
-
Respons Klaim Kompolnas Tak Ada Instruksi Tembakan Gas Air Mata, Komnas HAM: Buka Dokumennya
-
Begini Rasanya Terkena Tembakan Gas Air Mata, Netizen: Nggak Sanggup Hati Ngebayangin di Stadion Kanjuruhan yang Tertutup
-
Fadli Zon Wanti-wanti TNI-Polri: Suporter Bukan Musuh, Ubah Mentalitas!
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
Terkini
-
Melawan Vonis 10 Tahun, Nadiem Makarim Resmi Serahkan Memori Banding
-
Ikut Kunker ke New York, Anak Menteri PU Bernama Aurellia Ternyata Bekerja di Vale Indonesia
-
5 Tisu Pembersih Badan: Solusi Cepat Tetap Segar Seharian Tanpa Harus Mandi
-
Dilema Anak Muda RI: Tetap Ingin Menikah tapi Tercekik Beban Ekonomi dan Rumah Mahal
-
Momen Prabowo dan PM India Narendra Modi Kunjungi Candi Prambanan
-
Review Jujur The Prodigy: Saat Kejeniusan Berubah Menjadi Senjata Mematikan
-
Kejagung Bongkar Akal-Akalan Ekspor Logam Tanah Jarang, Dua Pengiriman Diduga Sudah Lolos
-
Pantas Suka Joget, Prabowo Blak-blakan Ungkap Punya DNA India di Hadapan PM Modi: Ini Benar!
-
Review Color Book: Meramu Duka Menjadi Perjalanan Cinta yang Begitu Tulus
-
Wujudkan Tata Kelola yang Bersih dan Transparan, BPJS Kesehatan Bersinergi dengan KPK