Hari ini, 50 tahun yang lalu, Roberto Mancini lahir di Iesi, Italia. Manajer sepak bola nomor wahid, itulah Mancini. Mantan bintang lapangan hijau yang pernah melatih klub besar macam Lazio, Manchester City, dan Galatasaray itu kini menjadi manajer Inter Milan.
Manajer yang menaruh perhatian lebih pada lini belakang, begitu orang mengenal Mancini. Kepada anak-anak asuhnya, di klub manapun yang dilatihnya, mantan striker Sampdoria dan Lazio ini menekankan pentingnya untuk tidak kebobolan dalam pertandingan. Namun, tak berarti Mancini tidak suka jika penyerangnya sering membobol gawang lawan.
Mancini memprioritaskan penguatan pertahanan tim, baru kemudian mengasah ujung serangan agar banyak membuat gol. Gayanya yang terlalu berhati-hati ini kerap menuai kritik, terlebih saat dirinya mengarsiteki Manchester City pada tahun 2009 hingga 2013. Namun, dengan gaya itu, tim yang ia latih pun tak bisa dikatakan minim prestasi. Di bawah asuhannya, The Citizens sekali merengkuh trofi Liga Premier, Piala FA, dan Community Shield.
Mancini memulai karier kepelatihan di usia yang terbilang muda. Berbekal pengalaman jadi asisten pelatih Lazio, Sven-Goran Eriksson, Mancini sudah dipercaya menangani Fiorentina ketika usianya masih 35 tahun.
Di tim pertama yang ia latih inilah, Mancini membuktikan bahwa uang bukanlah segalanya untuk meraih prestasi. Konon, meski melatih tanpa digaji, sampai pernah dapat ancaman pembunuhan gara-gara menjual pemain bintang lantaran keuangan klub yang kembang kempis, Mancini sukses mempersembahkan gelar Coppa Italia bagi Fiorentina.
Kondisi serupa juga dialami saat dirinya menangani Lazio. Keuangan klub yang terpuruk memaksanya menjual pemain pilar, dan memotong gaji pemain lainnya. Namun, dengan tangan dinginnya, pelatih yang terbiasa mengenakan syal berwarna khas klub asuhannya itu berhasil membuat Lazio memenangi Coppa Italia.
Nama Mancini kian melambung ketika mengasuh Inter Milan untuk pertama kalinya selama periode 2004 hingga 2008. Pada saat itu, Inter mengakhiri puasa gelar domestiknya sejak tahun 1989 dengan memenangi Coppa Italia. Bersama Inter pula, suami Federica itu menjadi pelatih ketiga dalam sejarah sepak bola Italia yang berhasil membawa klubnya menyandang gelar Scudetto dua musim berturut-turut.
Terpopuler
- Daftar Prodi Berpotensi Ditutup Imbas Fokus Industri Strategis Nasional
- Promo Alfamart Hari Ini 30 April 2026, Tebus Suka Suka Diskon 60 Persen
- 5 Rekomendasi HP POCO RAM Besar dan Kamera Bagus, Cek di Sini!
- 7 Cushion Wudhu Friendly dengan Hasil Flawless Seharian, RIngan dan Aman di Kulit
- Heboh Lagi, Ahmad Dhani Klaim Punya Bukti Perselingkuhan Maia Estianty dengan Petinggi Stasiun TV
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Marc Klok: Ini Mentalitas Juara
-
Bojan Hodak Akui Persib Bandung Salah Start Meski Menang 4-2 atas Bhayangkara FC
-
Tak Cuma Fadly Alberto Hengga, Inilah Daftar Pemain Bhayangkara FC U-20 yang Disanksi PSSI
-
Nuno Espirito Santo Ungkap Persaingan Degradasi Premier League Sengit
-
Arne Slot Lega Cedera Mohamed Salah Tak Parah, tapi Absen Lawan Manchester United
-
Manchester United Masih Kaji Opsi Pelatih, Michael Carrick Jadi Kandidat Terkuat
-
Mason Greenwood Dianggap Terlalu Bagus untuk Marseille, Disarankan Hengkang
-
Kevin Diks hingga Ole Romeny Boleh Tampil, Timnas Indonesia Auto Juara FIFA ASEAN Cup 2026?
-
Komdis PSSI Resmi Jatuhi Fadly Alberto Hukuman Berat!
-
Banyak Klub Incar Gonzalo Garcia, Real Madrid Siap Lepas di Musim Panas