Suara.com - Kamis (3/3/2022), Roman Abramovich mengumumkan akan menjual Chelsea. Keputusan tersebut berkaitan erat dengan konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina.
Abramovich akan memberikan keuntungan dari penjualan Chelsea untuk membantu korban perang Ukraina.
Pada akhir pekan lalu Abramovich sempat menyatakan bakal menyerahkan kendali klub ke Yayasan Amal Chelsea untuk menghindari potensi pencekalan dari pemerintah Inggris.
Namun akhirnya taipan Rusia berusia 55 tahun itu memutuskan untuk melepas Chelsea meski diakuinya hal itu berat dan menyakitkan.
Wajar saja karena sudah sejak 2004 dia menjadi bos dari klub yang bermarkas di Stamford Bridge tersebut. Jika akhirnya Chelsea dijual, beberapa hal buruk kemungkinan terjadi pada Chelsea.
1. Aliran Dana
Sejak diakuisisi oleh Roman Abramovich hampir dua dekade silam, Chelsea menjelma sebagai klub raksasa dengan gelontoran dana melimpah.
Abramovich dikenal royal kepada Chelsea dan tak segan menggelontorkan dana besar untuk membeli pemain bintang atau pelatih top.
Jika Abramovich tak lagi menjadi pemilik Chelsea, besar kemungkinan aliran dana yang berlimpah ini tidak akan dengan mudah dimiliki lagi oleh Chelsea.
Baca Juga: Viral Potretnya Tak Pegang Spanduk 'Stop War' di Laga Persija vs Persib, Ini Respons Mohammed Rashid
2. Potensi Konflik di Dalam Klub
Pergantian kepemilikan bukan hal yang mudah bagi sebuah klub, pasalnya hal ini biasanya bakal mengubah struktur kepengurusan.
Bukan tidak mungkin bakal terjadi konflik internal di antara pengurus atau manajemen jika nantinya Chelsea dilepas oleh Abramovich.
3. Performa Tim
Kondisi yang terjadi di dalam tubuh manajemen Chelsea juga berpotensi membuat performa tim menurun.
Faktor di luar lapangan itu kemungkinan besar akan memengaruhi mentalitas pemain dan mengganggu konsentrasi pelatih.
Jika kondisi buruk berlanjut, bukan tidak mungkin performa Chelsea juga akan ikut menurun.
[Penulis: Aditia Rizki]
Berita Terkait
-
Rudal Jelajah Ukraina FP5 Flamingo Buka Peluang Serang Iran, Jarak Luncur Sampai 3000 Km
-
Calon Korban Krisis Selat Hormuz Sudah Terlihat, Negara Monarki Tertua Ini Terancam Resesi
-
Suplai Rudal Patriot Kritis, Pertahanan Udara Ukraina Bobol Hingga Makan Korban Jiwa
-
Rusia - Ukraina Saling Tembak Drone dan Rudal, 14 Orang Tewas
-
Mata-Mata Iran Asal London Tertangkap Intip Pangkalan Militer Inggris di Siprus
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan