Bola / Bola Indonesia
Senin, 13 Oktober 2025 | 14:08 WIB
Mirwan Suwarso selaku perwakilan Mola saat ditemui di Jakarta (Suara.com/Adie Prasetyo Nugraha).
Baca 10 detik
  • Kegagalan Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2026 memunculkan wacana perlunya sosok baru yang fokus memimpin PSSI.
  • Mirwan Suwarso dinilai layak menggantikan Erick Thohir berkat pengalamannya memimpin klub Serie A, Como 1907, dengan manajemen modern dan visi jangka panjang.
  • Selain itu, jaringan globalnya di Eropa menjadi modal penting untuk membawa sepak bola Indonesia ke level lebih profesional.

Suara.com - Kegagalan Timnas Indonesia dalam melaju ke Piala Dunia 2026 perlu mendapatkan evaluasi, termasuk adanya Ketum PSSI baru yang saat ini dipimpin oleh Erick Thohir.

Tak ada yang meragukan kemampuan Erick Thohir dalam memimpin PSSI selama ini. Proses naturalisasi pemain keturunan diurus dengan cepat, mendatangkan Patrick Kluivert cs, hingga sponsor untuk kompetisi lokal.

Namun, Erick Thohir kini memiliki jabatan sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), ada banyak cakupan olahraga yang perlu dirinya urus. Sehingga, PSSI perlu sosok yang fokus untuk mengurus sepak bola.

Indonesia punya banyak putra bangsa yang hebat. Salah satunya adalah Mirwan Suwarso. Ia memiliki kualifikasi dan pengalaman yang pantas untuk menjadi Ketum PSSI yang baru.

Berikut adalah tiga alasan Mirwan Suwarso pantas jadi Ketum PSSI yang baru:

1. Berpengalaman dalam Manajemen Sepak Bola Modern

Mirwan saat ini berstatus sebagai presiden klub Serie A, Como 1907. Ia memiliki pengalaman serupa dengan Erick Thohir yang pernah memimpin Inter Milan di kompetisi yang sama.

Jabatan saat ini membuat Mirwan memahami standar manajemen sepak bola Eropa yang profesional dan berorientasi jangka panjang.

Ia terbukti mampu membawa Como berkembang secara stabil, baik dari sisi finansial maupun pembinaan pemain. 

Baca Juga: Dulu Bilang Siap Dihujat, Erick Thohir Kini Batasi Kolom Komentar

Como berhasil terhindar dari degradasi pada musim pertama di Serie A Italia. Pada musim ini, mereka berada di posisi delapan klasemen dementara dengan sembilan poin dari enam laga.

2. Visioner dan Terbuka terhadap Pembinaan Jangka Panjang

Mirwan mengelola Como dengan pikiran jangka panjang. Di klubnya sekarang, dirinya sudah mempersiapkan segala hal, termasuk jika ditinggalkan pelatih sekarang, Cesc Fabregas, atau ada petinggi klub yang hengkang.

Sehingga, apabila dirinya tak lagi di Como dan Cesc Fabregas juga hengkang, klub itu dipastikan bakal tetap baik-baik saja.

"Kami harus punya rencana suksesi , bukan hanya untuk pelatih, tapi juga untuk setiap posisi eksekutif. Bahkan saya sendiri sudah punya pengganti. Kami melatih orang untuk siap mengambil alih, dari CEO hingga posisi lain,” ujar Mirwan, dikutip dari Sportitalia.

"Cesc bukan hanya pelatih, tetapi juga bagian penting dari identitas klub. Jadi, jika dia memutuskan untuk pergi, dia akan membantu memilih siapa yang pantas menggantikannya," imbuhnya.

Pendekatannya menekankan kesinambungan dan pengembangan sistem, bukan keputusan reaktif adalah hal yang sangat dibutuhkan dalam membangun sepak bola Indonesia.

3. Reputasi Internasional dan Jaringan Global

Dengan posisinya di Eropa, Mirwan memiliki koneksi luas di dunia sepak bola internasional. Contohnya saja di lingkup Como, ada Cesc Fabregas sebagai pelatih sekaligus pemegang saham minoritas dan Thiery Henry yang juga berstatus pemilik saham minoritas.

Belum lagi, selama menangani Como di Italia, Mirwan pastinya sudah bertemu banyak sosok-sosok hebat di dunia sepak bola yang bisa diserap secara ilmunya.

Jaringan ini bisa menjadi modal besar bagi PSSI untuk menjalin kerja sama global, mendatangkan pelatih, serta membuka peluang pemain Indonesia tampil di luar negeri.

Apakah Mirwan Suwarso yang sudah mapan bersama Como di Italia bersedia pulang ke Indonesia untuk menjadi Ketum PSSI yang baru?

Load More