Bola / Bola Indonesia
Kamis, 12 Februari 2026 | 15:28 WIB
Sumardji (IG Sumardji)
Baca 10 detik
  • Sumardji dilarang FIFA dampingi Timnas selama 20 laga akibat insiden lawan Irak.

  • Denda sebesar Rp324 juta dijatuhkan kepada Sumardji karena melanggar Kode Disiplin FIFA.

  • PSSI masih mencari pengganti manajer baru yang mampu menangani tekanan berat publik.

Suara.com - Kursi manajer Timnas Indonesia kini sedang menjadi sorotan setelah munculnya kabar mengejutkan dari FIFA.

Ketua Badan Tim Nasional, Sumardji, memberikan pandangan mendalam mengenai kerumitan posisi yang selama ini ia emban.

Hingga detik ini, sosok yang akan meneruskan tongkat estafet kepemimpinan di bangku cadangan masih misterius.

Sumardji mengakui bahwa tanggung jawab sebagai pendamping skuad Garuda memiliki beban mental yang sangat masif.

Hal ini berkaitan erat dengan posisi Timnas yang kini sedang berjuang di kancah internasional.

Langkah Sumardji terhenti karena keputusan tegas yang dikeluarkan oleh Komite Disiplin badan sepak bola dunia.

Tiga pengadil FIFA, Jorge Palacio, Alejandro Jose Piera, dan Paola Lopez Barraza, telah mengetok palu sidang.

Berdasarkan hasil pertemuan pada 18 November 2025, Sumardji dinyatakan bersalah atas insiden di lapangan hijau.

Surat keputusan dengan nomor FFD-25650 menjadi dasar hukum dilarangnya Sumardji mendampingi tim nasional Indonesia.

Baca Juga: Calon Lawan Timnas Indonesia, St Kitts and Nevis Diperkuat Eks Rekan Elkan Baggott

Hukuman ini merupakan buntut dari peristiwa yang terjadi pada babak kualifikasi menuju Piala Dunia.

Sumardji terbukti melanggar regulasi yang tertuang dalam Kode Disiplin FIFA pasal 14 ayat 1.

Poin pelanggaran tersebut merujuk pada tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap perangkat pertandingan atau wasit.

Kejadian panas itu meletus saat laga krusial antara Irak melawan Indonesia di fase keempat kualifikasi.

Pertandingan yang digelar di Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah, pada Oktober 2025 menjadi saksi bisu insiden tersebut.

Akibatnya, Sumardji harus membayar denda sebesar 15 ribu franc Swiss atau mencapai Rp324 juta.

Terkait siapa yang akan mengisi kekosongan jabatan tersebut, Sumardji menyerahkan sepenuhnya kepada otoritas tertinggi PSSI.

"Saya masih belum tahu (calon manajer timnas yang baru), itu semua tergantung nanti pak ketua umum dan juga mungkin teman-teman Exco seperti apa," kata Sumardji kepada awak media.

Keputusan final tetap berada di tangan Ketua Umum PSSI beserta jajaran Komite Eksekutif yang berwenang.

Mengingat durasi sanksi mencapai 20 pertandingan, kebutuhan akan sosok manajer baru menjadi sangat mendesak.

Tantangan bagi manajer berikutnya tentu tidak akan lebih mudah dari periode kepemimpinan sebelumnya.

Sumardji menekankan bahwa publik seringkali salah menilai kemudahan pekerjaan di balik layar tim nasional.

"Karena jujur saja memang tugas pekerjaannya manajer cukup berat, sekali lagi cukup berat. Mungkin orang di luar nganggapnya itu ringan-ringan. Jujur sebenarnya selama ini yang saya alami itu sangat berat," jelasnya.

Menjaga harmoni antara pemain lokal dan naturalisasi di bawah asuhan pelatih kelas dunia bukan perkara simpel.

Manajer dituntut menjadi jembatan komunikasi yang efektif antara manajemen federasi dengan kebutuhan teknis di lapangan.

Keseimbangan emosional tim sangat bergantung pada bagaimana manajer mengelola situasi di ruang ganti pemain.

Prioritas pertama seorang manajer adalah memastikan seluruh kebutuhan atlet dan staf kepelatihan terpenuhi tanpa celah.

"Satu, harus bisa memastikan rasa aman, nyaman, dan sejahtera pemain," jelas lelaki yang juga COO Bhayangkara FC tersebut.

Jika pemain merasa terlindungi, performa mereka di atas rumput hijau diharapkan bisa lebih maksimal.

Selain urusan logistik, aspek psikologis menjadi pilar utama yang harus dijaga oleh sang manajer tim.

Tanpa kenyamanan, taktik sehebat apapun dari pelatih tidak akan bisa diimplementasikan dengan sempurna oleh pemain.

Tantangan terbesar lainnya adalah menjadi tameng bagi para pemain dari kritik tajam para pendukung sepak bola.

"Yang kedua, tekanan publik juga larinya pasti tertuju kepada manajer sehingga ketika itu tidak berhasil, manajer harus berani mengambil sikap dan harus bertanggung jawab," pungkasnya.

Ekspektasi tinggi dari masyarakat seringkali berubah menjadi tekanan luar biasa saat tim mengalami kegagalan.

Seorang manajer harus siap menjadi orang pertama yang disalahkan demi melindungi mentalitas para pemain muda.

Keberanian mengambil tanggung jawab inilah yang dianggap Sumardji sebagai kriteria mutlak bagi penggantinya nanti.

Kini PSSI sedang menimbang-nimbang figur yang tepat untuk menggantikan posisi strategis yang ditinggalkan Sumardji tersebut.

Manajer baru nantinya harus siap bekerja di bawah bayang-bayang sanksi panjang yang menimpa pendahulunya.

Stabilitas tim nasional menjadi harga mati agar fokus lolos ke Piala Dunia tetap terjaga dengan baik.

Publik berharap siapapun yang terpilih dapat membawa perubahan positif bagi kemajuan sepak bola Indonesia.

Perjalanan menuju panggung dunia masih panjang dan membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki integritas serta ketegasan.

Load More