- Jurnalis Belanda Sam van Raalte menyoroti politisasi sepak bola Indonesia dalam bukunya berjudul De Voetbalrepubliek yang terbit 2026.
- Sam mengkritik politikus yang memanfaatkan fanatisme suporter Indonesia demi meningkatkan citra diri dan keuntungan elektoral di daerah.
- Ia juga mengungkapkan kekaguman terhadap gairah suporter, namun mengkhawatirkan buruknya manajemen keamanan stadion pascatragedi Kanjuruhan tahun 2022.
Suara.com - Jurnalis asal Den Haag, Belanda, Sam van Raalte, mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap kondisi sepak bola Indonesia melalui bukunya yang berjudul De Voetbalrepubliek.
Dalam perjalanannya mengikuti skuad Garuda, ia melihat betapa besarnya potensi Timnas Indonesia, tetapi sering kali langkahnya terhambat oleh kepentingan politik praktis para penguasa.
Sam menilai bahwa kecintaan luar biasa suporter terhadap olahraga ini justru kerap dimanfaatkan oleh politikus korup demi meningkatkan citra diri mereka di hadapan publik internasional.
Sepak Bola Sebagai Alat Kekuasaan
Melalui riset untuk bukunya, pria berusia 35 tahun tersebut mengikuti perjalanan Timnas Indonesia hingga ke Arab Saudi di bawah asuhan pelatih Patrick Kluivert.
Meski tiket Piala Dunia akhirnya meleset dari genggaman, Sam mengaku memiliki perasaan yang campur aduk terhadap kegagalan tersebut karena melihat realitas di balik layar.
"Saya merasa kasihan kepada para pemain dan tentu saja kepada masyarakat Indonesia, tetapi di sisi lain saya juga belajar bagaimana politikus mencoba menggunakan kesuksesan untuk citra mereka sendiri," kata Sam van Raalte dikutip dari omroepwest, Senin (15/6/2026).
Ia secara spesifik menyoroti bagaimana figur otoritas di Indonesia sering kali mencoba menunggangi momen positif tim nasional demi keuntungan politik pribadi.
"Politik dan sepak bola saling terkait di Indonesia," ujar Sam van Raalte.
Baca Juga: Rumor Panas FIFA ASEAN Cup 2026: Pakistan Bantah Kabar Ikut Serta di Indonesia
Sam bahkan berpendapat bahwa kegagalan lolos ke Piala Dunia terkadang menjadi sisi baik agar tidak ada pihak yang mengklaim kesuksesan tersebut demi narasi politik jangka panjang.
Fanatisme Layaknya Sebuah Agama
Meskipun mengkritik tajam keterlibatan politik, Sam van Raalte sangat mengagumi gairah suporter Indonesia yang ia anggap berada di level yang berbeda.
Baginya, pengalaman menonton pertandingan di Jakarta, Sleman, hingga Bandung jauh lebih berkesan dibandingkan atmosfer pertandingan di kota-kota besar Eropa.
"Mereka mengalaminya seperti sebuah agama, satu-satunya tempat saya melihat hal serupa adalah di Boca Juniors, Argentina," tutur Sam van Raalte.
Ia melihat bahwa bagi masyarakat Indonesia, sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan sebuah pelarian dari realitas kehidupan sehari-hari.
Berita Terkait
-
Selamat Tinggal Ragnar Oratmangoen! Angkat Kaki dari Dender, Pulang ke Eredivisie?
-
Hanif Sjahbandi Bagikan Resep Sukses Jadi Pemain Profesional di Future Star Competition 2026
-
Titisan Calvin Verdonk! Timnas Indonesia Bisa Panggil Wonderkid Liga Jerman Tanpa Naturalisasi
-
Media Asing Sebut Skema Gol Republik Ceko di Piala Dunia 2026 Mirip Timnas Indonesia
-
Resmi Debut di Piala Dunia, Tijjani Reijnders Kenang Momen Didekati Timnas Indonesia
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
Sabri Lamouchi dan 2 Pelatih yang Dipecat di Tengah Piala Dunia
-
FIFA Didesak Pecat Shaun Evans Usai Tunjukkan Gestur Supremasi Kulit Putih
-
Kalah 5-1, Tunisia Pecat Pelatih Sabri Lamouchi di Tengah Piala Dunia 2026
-
Amunisi Baru PSIS Semarang, Syahrian Abimanyu Resmi Berseragam Laskar Mahesa Jenar
-
Persis Solo Resmi Tunjuk Ricky Neslon Sebagai Pelatih Kepala
-
Kondisi Terkini Lamine Yamal Jelang Timnas Spanyol Hadapi Cape Verde
-
Aksi Suporter Timnas Jepang di Piala Dunia 2026 Ini Bikin Salut
-
Piers Morgan: Cuma Negara Ini yang Mampu Hentikan Timnas Inggris Jadi Juara Piala Dunia 2026
-
3 Edisi Selalu Tepat, Matematikawan Jerman Prediksi Belanda Juara Piala Dunia 2026
-
Patut Ditiru! Cara Hajime Moriyasu Motivasi Pemain Jepang Usai Imbang Lawan Belanda