Bola / Bola Dunia
Senin, 13 Juli 2026 | 17:16 WIB
Potret Pelatih Mesir, Hossan hassan protes ke wasit selama laga melawan Argentina. [Yahoo Sports]
Baca 10 detik
  • Penggunaan VAR pada Piala Dunia 2026 menuai kontroversi karena keputusan wasit yang dianggap menguntungkan tim Argentina secara konsisten.
  • Data Northeastern Global News mencatat Argentina menempati urutan kedua dengan tingkat keputusan VAR menguntungkan tertinggi selama turnamen.
  • FIFA menegaskan bahwa seluruh keputusan wasit diambil secara objektif sesuai ketentuan resmi tanpa bukti adanya manipulasi sistem.

Suara.com - Keputusan Video Assistant Referee (VAR) kembali menjadi sorotan sepanjang Piala Dunia 2026.

Kali ini, Argentina menjadi tim yang paling banyak diperbincangkan setelah sejumlah keputusan wasit dinilai menguntungkan juara bertahan tersebut dalam perjalanan menuju semifinal.

Perdebatan semakin mengemuka usai Argentina menyingkirkan Mesir pada babak 16 besar. Seusai pertandingan, sejumlah pemain dan staf pelatih Mesir mengkritik kepemimpinan wasit serta penggunaan VAR.

Mereka menilai beberapa keputusan merugikan timnya, termasuk pembatalan gol yang terjadi setelah peninjauan ulang melalui VAR.

Kontroversi juga muncul pada laga perempat final melawan Swiss. Intervensi VAR yang berujung kartu merah bagi penyerang Swiss, Breel Embolo, memicu kritik dari sejumlah pengamat dan suporter yang menilai keputusan tersebut terlalu berlebihan.

Kolase timnas Argentina dan Inggris jelang laga Semifinal Piala Dunia 2026 (Instagram/@afaseleccionen dan @england)

Di media sosial, berbagai keputusan tersebut memunculkan anggapan bahwa Argentina memperoleh perlakuan yang lebih menguntungkan dibandingkan tim lain. Namun, data menunjukkan situasi yang lebih kompleks.

Berdasarkan data yang dihimpun Northeastern Global News hingga berakhirnya babak 16 besar, Argentina menempati posisi kedua dalam daftar tim yang paling banyak memperoleh keputusan VAR yang menguntungkan. Posisi pertama ditempati tuan rumah bersama, Meksiko.

Data tersebut mencatat tingkat intervensi VAR yang menguntungkan Argentina mencapai 6,7 per 100 pelanggaran, tanpa satu pun keputusan VAR yang dinilai merugikan tim tersebut.

Meksiko berada di posisi teratas dengan angka 7,8, disusul Portugal (4,6), Selandia Baru (4,2), dan Arab Saudi (3,6).

Baca Juga: Duel Skuat Rp16 Triliun: Prancis vs Spanyol di Semifinal Piala Dunia 2026

Di sisi lain, Kroasia menjadi tim yang paling sering dirugikan berdasarkan data tersebut. Finalis Piala Dunia 2018 itu tercatat tidak menerima satu pun keputusan VAR yang menguntungkan, sementara tingkat keputusan yang merugikan mencapai 6,5 per 100 pelanggaran. Di bawah Kroasia terdapat Iran (5,4), Qatar (5,1), Jerman (4,0), dan Inggris (3,5).

Meski demikian, data statistik tersebut tidak dapat dijadikan bukti bahwa VAR berpihak kepada tim tertentu. FIFA secara konsisten menegaskan bahwa setiap keputusan VAR diambil berdasarkan peninjauan terhadap rekaman pertandingan sesuai dengan ketentuan dalam Laws of the Game.

Sepanjang turnamen, beberapa keputusan yang melibatkan Argentina memang memicu perdebatan. Selain pembatalan gol Mesir, insiden tekel Lionel Messi saat menghadapi Aljazair juga menjadi perhatian karena wasit tidak memberikan kartu kepada kapten Argentina tersebut.

Sementara itu, keputusan VAR yang berujung kartu merah untuk Breel Embolo saat menghadapi Swiss turut menambah daftar kontroversi.

Terlepas dari berbagai polemik tersebut, hingga kini belum ada bukti resmi yang menunjukkan adanya manipulasi atau keberpihakan sistem VAR terhadap Argentina selama Piala Dunia 2026.

Perdebatan mengenai konsistensi penggunaan teknologi tersebut pun diperkirakan akan terus berlanjut seiring berlangsungnya turnamen.

Load More