- Aleksander Ceferin menjabat sebagai Presiden UEFA sejak 2016 dan dikenal sebagai pemimpin yang vokal serta tegas.
- Ceferin memboikot Final Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat sebagai bentuk protes atas intervensi politik FIFA.
- Aksi boikot tersebut mempertegas ketegangan hubungan antara UEFA dan FIFA terkait tata kelola organisasi sepak bola dunia.
Suara.com - Aleksander Ceferin merupakan salah satu figur paling berpengaruh dalam dunia sepak bola internasional saat ini. Sebagai Presiden Union of European Football Associations (UEFA) sejak 2016, pria asal Slovenia ini dikenal tegas, vokal, dan sering kali bersikap kritis terhadap keputusan FIFA.
Baru-baru ini, namanya kembali menjadi sorotan global setelah memilih memboikot Final Piala Dunia 2026 yang digelar di New Jersey, Amerika Serikat. Keputusan Presiden UEFA ini menjadi simbol ketegangan mendalam antara UEFA dan FIFA.
Profil Aleksander Ceferin
Lahir pada 13 Oktober 1967 di Ljubljana, Slovenia, Ceferin berlatar belakang sebagai pengacara. Ia lulus dari Fakultas Hukum Universitas Ljubljana dan bergabung dengan firma hukum keluarga.
Kariernya di dunia sepak bola dimulai ketika ia menjadi presiden klub amatir NK Olimpija Ljubljana. Pada 2011, ia terpilih sebagai Presiden Asosiasi Sepak Bola Slovenia (NZS) dan berhasil membawa organisasi itu keluar dari berbagai masalah internal.
Pada September 2016, Ceferin terpilih sebagai Presiden UEFA ketujuh, menggantikan Michel Platini. Ia mengalahkan kandidat lain dengan suara telak.
Sejak itu, ia menjabat dua periode dan dikenal sebagai pemimpin yang fokus pada reformasi, integritas, dan perlindungan nilai-nilai sepak bola Eropa.
Di bawah kepemimpinannya, UEFA berhasil mengembangkan Liga Champions, mendukung kompetisi klub dan tim nasional, serta menekankan isu keadilan kompetitif dan anti-rasisme.
Ia juga menjabat sebagai Wakil Presiden FIFA, meski hubungannya dengan Gianni Infantino sering tegang.
Ceferin dikenal sebagai pemimpin yang vokal. Ia pernah mengkritik keras rencana FIFA menggelar Piala Dunia setiap dua tahun, menyebutnya bisa “membunuh” sepak bola.
Baca Juga: Piala Dunia Berakhir, Lionel Messi Umumkan Gantung Sepatu?
Ia juga menentang perluasan Piala Dunia 2026 menjadi 48 tim, dengan alasan banyak pertandingan akan “tidak menarik” dan membebani kalender. Kritik ini menuai kontroversi, terutama dari konfederasi Asia dan Afrika yang merasa disinggung.
Boikot Final Piala Dunia 2026: Puncak Ketegangan
Pada 19 Juli 2026, Ceferin memilih tidak hadir di Final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Spanyol dan Argentina. Keputusan ini sebagai bentuk protes terbuka terhadap FIFA.
Alasan utamanya adalah dugaan intervensi politik dalam penyelenggaraan turnamen, khususnya kasus Folarin Balogun. Striker Amerika Serikat ini mendapat kartu merah di babak 16 besar, tapi FIFA mencabut skorsingnya setelah lobi dari Presiden Donald Trump kepada Gianni Infantino.
UEFA melihat ini sebagai pelanggaran serius terhadap independensi disiplin dan “garis merah” tata kelola.
Boikot ini mencerminkan ketegangan jangka panjang antara UEFA dan FIFA. Ceferin dan Infantino jarang tampil bersama, dan UEFA merasa FIFA terlalu dipengaruhi kekuatan politik eksternal.
Absennya Ceferin di final menjadi sinyal kuat bahwa Eropa tidak ragu menentang praktik yang dianggap merusak kredibilitas olahraga.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Profil Aleksander Ceferin, Presiden UEFA yang Boikot Final Piala Dunia 2026
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Purbaya Klarifikasi Insentif Pajak 0% hingga 50 Tahun buat Investor PFII
-
ShopeePay Ungkap Cara Praktis Hemat Tagihan Listrik, Pulsa, dan Kebutuhan Digital
-
Polusi Debu Kapur Selimuti Permukiman Warga Citatah
-
Orang Kaya Baru: Label Sosial atau Bentuk Kecemburuan Kelas?
-
Review The East Palace: Menelusuri Akar Teror yang Melampaui Kutukan
-
Piala Dunia Berakhir, Lionel Messi Umumkan Gantung Sepatu?
-
Bercak Merah di Layar Galaxy S26 Ultra Ramai Dikeluhkan, Benarkah Burn-In?
-
Hujan Deras Guyur Pekanbaru, Jalan Sudirman dan Jalan Diponegoro Banjir