Bola / Bola Indonesia
Sabtu, 08 Agustus 2026 | 23:35 WIB
Persebaya Surabaya sukses menjadi kampiun Piala Presiden 2026 (dok.Piala Presiden 2026)
Baca 10 detik
  • Maruarar Sirait menyatakan Piala Presiden 2026 di Jakarta tanggal 6 Agustus 2026 menjadi edisi terakhir kepemimpinannya setelah delapan kali memimpin.
  • PSSI berencana mengubah format turnamen edisi berikutnya menjadi agenda tim nasional yang bertanding saat FIFA Matchday.
  • Turnamen sejak pertama kali diselenggarakan tahun 2015 terbukti berhasil meningkatkan perekonomian masyarakat melalui pelibatan pelaku UMKM lokal.

Dilihat dari nilai sponsor pada edisi 2026 menjadi yang tertinggi dari sebelum-sebelumnya. Sekitar Rp70 miliar belum termasuk Rp20 miliar yang didapat pihak hak siar mendukung gelaran Piala Presiden.

“Jadi totalnya bisa saya sebut Rp90 miliar mendekati Rp100 miliar karena akan ada yang mau masuk lagi,” ujar Ara.

Piala Presiden Hiburan dan Meningkatkan Perekonomian Masyarakat

Piala Presiden tidak hanya berbicara soal siapa yang menjadi juara dan mengangkat trofi di turnamen akhir. Sejak awal, Maruarar Sirait juga ingin ajang tersebut memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakar.

Saat berlangsungnya sebuah laga Piala Presiden yang menjadi pusat perhatian. Ara mau di sekelilingnya ada aktivitas ekonomi yang ikut bergerak.

Pedagang makanan dan minuman dan penjual merchandise harus kecipratan rezeki.

Ramainya Pengunjung UMKM Piala Presiden 2026 (Suara.com/Adie Prasetyo Nugraha)

Delapan kali memimpin Piala Presiden membuat Maruarar tentu memahami bahwa mempertahankan sebuah turnamen bukanlah perkara mudah.

Setiap edisi membawa tantangan yang berbeda, mulai dari mencari peserta, sponsor, hak siar, venue, hingga memastikan masyarakat tetap memiliki alasan untuk datang dan menyaksikan pertandingan.

Hal inilah yang membedakan Piala Presiden dengan turnamen lain di Tanah Air. Ara mau pertandingan sepak bola bukan hanya berbicara di atas lapangan, tetapi memberi dampak positif bagi masyarakat luas.

Baca Juga: Persija Kalahkan Arema FC 3-1, Macan Kemayoran Finis Ketiga di Piala Presiden 2026

“Pertemuan antara puluhan ribu penonton dengan UMKM yang berkualitas diharapkan mampu mendorong pelaku usaha naik kelas melalui momentum turnamen ini,” tegas Ara.

Dampak Positif Klub

Bagi klub peserta, Piala Presiden juga memiliki arti yang tidak kalah penting. Statusnya sebagai turnamen pramusim membuat ajang ini menjadi ruang bagi klub untuk mengukur kesiapan sebelum mengikuti kompetisi resmi.

Pelatih mendapatkan kesempatan untuk mencoba komposisi pemain, melihat perkembangan pemain muda, sekaligus menguji pemain baru yang dibawakan pada bursa transfer.

Situasi tersebut membuat Piala Presiden memiliki nilai strategis. Klub tidak datang hanya untuk mengejar trofi, tetapi juga membawa misi pematang waktu sebelum menghadapi musim yang sesungguhnya.

Hal ini menjadi semakin penting karena persiapan klub tidak selalu berjalan ideal. Pergantian pelatih, masuknya pemain baru, perubahan taktik hingga proses membangun kekompakan membutuhkan pertandingan kompetitif agar bisa diuji secara langsung.

Piala Presiden memberikan ruang untuk proses tersebut.

Maruarar pergi, Piala Presiden tetap berjalan

Setelah delapan kali memimpin, Maruarar Sirait akhirnya sampai pada keputusan untuk meletakkan tongkat estafet.

Keputusan tersebut menandai berakhirnya satu babak dalam perjalanan Piala Presiden. Namun pada saat yang sama, keputusan itu juga membuka pertanyaan baru: seperti apa wajah Piala Presiden setelah tidak lagi dipimpin oleh sosok yang selama ini identik dengan penyelenggaraannya?

Jawabannya tidak hanya berada di tangan pengganti Maruarar.

PSSI, klub, sponsor, pemegang hak siar, pelaku UMKM, suporter, hingga masyarakat memiliki kepentingan agar Piala Presiden tetap tumbuh.

Semua pihak tersebut selama ini menjadi bagian dari ekosistem yang membuat turnamen tersebut mampu bertahan dari satu edisi ke edisi berikutnya.

Oleh karena itu, tantangan terbesar setelah Maruarar pergi bukan sekadar mencari ketua baru. Tantangan sebenarnya adalah memastikan sistem yang sudah berjalan dapat dipertahankan dan dikembangkan.

Standar transparansi harus tetap dijaga. Hubungan dengan sponsor harus tetap dibangun. Klub harus tetap mendapatkan manfaat.

UMKM harus tetap mendapatkan kesempatan. Dan yang tidak kalah pentingnya, masyarakat harus tetap memiliki alasan untuk menantikan Piala Presiden.

Gagasan untuk menjadikan Piala Presiden sebagai ajang yang mempertemukan tim nasional pada periode FIFA Matchday menunjukkan bahwa turnamen ini tidak berhenti di satu bentuk.

Jika benar-benar terealisasi, perubahan tersebut akan menjadi babak baru dalam perjalanan Piala Presiden.

Oleh karena itu, Piala Presiden 2026 bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Ini adalah tentang sebuah pergantian generasi.

Maruarar Sirait mungkin tidak lagi memimpin Piala Presiden pada edisi berikutnya. Tetapi delapan tahun kepemimpinannya telah menempatkan Piala Presiden pada titik yang berbeda dibandingkan ketika turnamen ini pertama kali digelar pada tahun 2015.

Kini tugas berikutnya berada di tangan mereka yang melanjutkan.

Sang maestro telah meletakkan tongkat estafet.

Dan Piala Presiden harus terus berlari.

Load More