- Mantan pemain Timnas Belgia Radja Nainggolan mengaku menyesal karena tidak pernah memilih membela Timnas Indonesia sepanjang kariernya.
- Nainggolan menyatakan bahwa pemain Timnas Indonesia menikmati fasilitas mewah popularitas tinggi serta dukungan finansial yang sangat besar dari berbagai merek.
- Pada usia 38 tahun Nainggolan menilai karier internasionalnya bersama Belgia berakhir mengecewakan di bawah asuhan pelatih Roberto Martinez.
Suara.com - Mantan pemain Timnas Belgia, Radja Nainggolan, mengaku menyesal tidak pernah memilih membela Timnas Indonesia sepanjang kariernya.
Pemain berdarah Batak itu kini menyadari besarnya popularitas sepak bola di Tanah Air, termasuk perhatian dan fasilitas yang bisa dinikmati para pemain tim nasional.
Dalam wawancara dengan media Belgia, Het Nieuwsblad, Nainggolan juga menyoroti besarnya antusiasme suporter Indonesia.
Nainggolan menilai, bermain untuk Timnas Indonesia bukan hanya soal prestasi di lapangan, tetapi juga dapat memberikan keuntungan bagi citra dan masa depan seorang pemain setelah pensiun.
“Di sana ada 70 ribu orang yang menonton pertandingan melawan Vietnam atau Irak. Mereka begitu fanatik,” ujar Nainggolan, seperti dikutip dari Het Nieuwsblad.
Nainggolan Soroti Kemewahan Pemain Timnas Indonesia
Nainggolan juga menyinggung besarnya dukungan finansial dan fasilitas yang bisa diterima pemain Timnas Indonesia.
Nainggolan menyebut sejumlah pemain bahkan mendapatkan sponsor dari merek mewah dunia.
“Uang juga dihambur-hamburkan. Para pemain bahkan disponsori Louis Vuitton, Hublot, Rolex,” kata Nainggolan.
Nainggolan kemudian membandingkan situasi tersebut dengan kondisi Ivar Jenner ketika masih bermain di Belanda.
Menurut Nainggolan, Jenner saat itu hanya bermain untuk Jong Utrecht, tim cadangan FC Utrecht.
“Padahal, seorang pemain tim nasional seperti Ivar Jenner di sini hanya bermain untuk Jong Utrecht,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan pandangan Nainggolan mengenai besarnya nilai komersial yang dapat diperoleh pemain ketika menjadi bagian dari Timnas Indonesia.
Popularitas sepak bola nasional, menurut dia, bisa menjadi modal penting untuk membangun citra dan peluang bisnis di masa depan.
Akui Salah Mengambil Keputusan