Bri / News
Minggu, 17 Mei 2026 | 16:20 WIB
Pelaku usaha lokal. [Ist]
Baca 10 detik
  • Kanwil DJPb Lampung mencatat realisasi KUR mencapai Rp3,59 triliun atau 33,76 persen dari total plafon hingga Mei 2026.
  • Sebanyak 61.299 debitur sektor usaha produktif di Lampung telah menerima bantuan modal KUR dengan dominasi sektor pertanian.
  • Pemerintah turut menyalurkan pembiayaan ultra mikro senilai Rp241,7 miliar kepada 33.288 debitur guna mendukung stabilitas ekonomi kerakyatan daerah.

Suara.com - Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan Provinsi Lampung melaporkan bahwa realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di wilayahnya telah menyentuh angka Rp3,59 triliun hingga periode Mei 2026.

Pemerintah sendiri mengalokasikan total plafon anggaran KUR untuk Provinsi Lampung pada tahun ini sebesar Rp10,63 triliun.

"Sejak Januari sampai Mei 2026, realisasinya baru mencapai 33,76 persen atau sebesar Rp3,59 triliun dari total pagu. Oleh karena itu, serapan ini masih perlu terus dioptimalkan dan ditingkatkan ke depan," ujar Kepala Kanwil DJPb Kemenkeu Lampung, Purwadhi Adhiputranto, dalam konferensi pers di Bandarlampung, via Antara.

Rincian Serapan Berdasarkan Skema Kredit

Purwadhi memaparkan bahwa dari total akumulasi pembiayaan KUR senilai Rp3,58 triliun lebih tersebut, kontribusi terbesar berasal dari klaster usaha produktif skala mikro dan kecil. Berikut adalah rincian penyerapan dana berdasarkan skema penyaluran:

  • KUR Mikro: Menjadi penopang utama dengan realisasi mencapai Rp2,8 triliun.
  • KUR Kecil: Mencatatkan serapan sebesar Rp706 miliar.
  • KUR Super Mikro: Terealisasi sebesar Rp1,2 miliar.
  • KUR TKI: Tersalurkan sebesar Rp628 juta bagi pekerja migran.

Di samping program KUR, pemerintah juga menyediakan instrumen permodalan alternatif melalui skema Pembiayaan Ultra Mikro (UMI) yang dikelola oleh Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB).

Realisasi pendanaan UMI di Lampung tercatat berada di angka Rp241,7 miliar, yang terbagi atas skema reguler UMI sebesar Rp241,6 miliar dan program UMI Pro senilai Rp100 juta.

Ditinjau dari aspek sebaran penerima manfaat, program KUR di Lampung telah berhasil menjangkau sebanyak 61.299 debitur.

Mayoritas penerima merupakan pelaku usaha di sektor mikro dengan jumlah mencapai 58.126 debitur. Selanjutnya, sebanyak 3,013 orang tercatat sebagai debitur KUR kecil, 140 orang debitur KUR super mikro, dan 20 orang penerima KUR TKI.

Baca Juga: Kemenangan Jadi Harga Mati Bali United, Kado Penutup untuk Semeton Dewata

Sementara itu, untuk program pembiayaan UMI, total serapan modal dinikmati oleh 33.288 pelaku usaha ultra mikro, dengan rincian 33.287 debitur pada skema reguler dan 1 orang mitra terdaftar pada skema UMI Pro.

Berdasarkan klasifikasi lapangan usaha, sektor agraris masih menjadi roda penggerak utama penyerapan modal kerja. Portofolio KUR terbesar mengalir ke sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan dengan porsi dominan mencapai 56,24 persen.

Sementara untuk pembiayaan UMI, serapan modal terbesar berpusat pada sektor perdagangan besar serta eceran dengan kontribusi sebesar 6,30 persen.

Dari sisi lembaga penyalur, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI kembali mengukuhkan posisinya sebagai mitra strategis pemerintah dengan kontribusi penyaluran KUR terbesar di Lampung, yakni mencatatkan persentase dominan hingga 70,25 persen.

Secara pemetaan wilayah administratif, Kabupaten Lampung Tengah menjadi daerah dengan pemanfaatan dana KUR tertinggi di provinsi tersebut, dengan porsi penyerapan mencapai 24,11 persen.

Di sisi lain, untuk penyerapan pembiayaan berbasis ultra mikro (UMI), wilayah Kabupaten Lampung Selatan mencatatkan persentase tertinggi sebesar 1,01 persen.

Load More