- JPMorgan mengonfirmasi saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk diperdagangkan dengan valuasi diskon sangat dalam di bawah rata-rata historis.
- Analis menetapkan target harga saham BBRI sebesar Rp3.400 dengan potensi kenaikan sekitar 14 persen dari harga saat ini.
- JPMorgan memproyeksikan yield dividen BBRI mencapai 11,3 persen pada 2026 dan terus meningkat hingga 13,2 persen pada 2028.
Suara.com - Belakangan, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) jadi salah satu yang disorot karena aksi borong. Selain itu, BBRI jadi salah satu instrumen paling atraktif, khususnya bagi para pemburu dividen (dividend seeker) dan penganut prinsip value investing.
Laporan riset ekuitas terbaru dari JPMorgan mengonfirmasi bahwa bank pelat merah ini tengah diperdagangkan dengan tingkat valuasi diskon yang sangat dalam, jauh di bawah rata-rata historisnya.
Mengkaji dari kacamata valuasi, saham BBRI yang bergerak di rentang harga di bawah Rp3.000 saat ini mencatatkan rasio Price-to-Earnings (PE) hanya sebesar 7,3 kali, dengan rasio Price-to-Book (PB) di posisi 1,31 kali berdasarkan proyeksi kinerja tahun 2026.
Menurut perhitungan JPMorgan, level tersebut setara dengan 2,2 hingga 2,6 standar deviasi di bawah rata-rata valuasi 5 dan 10 tahun terakhir.
Menariknya lagi, valuasi BBRI saat ini tercatat lebih murah apabila disandingkan dengan bank-bank BUMN raksasa lainnya seperti Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Negara Indonesia (BBNI) menggunakan metrik PE/PB yang sama.
Bagi JPMorgan, level valuasi yang sedemikian tertekan mengindikasikan bahwa seluruh potensi risiko dan revisi negatif sebenarnya sudah "diperhitungkan ke dalam harga" (priced in).
Risiko tersebut termasuk proyeksi penyempitan marjin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) sekitar 26 basis poin menjadi 7,5 persen pada 2026, akibat peningkatan beban biaya dana di tengah ketatnya likuiditas sistem perbankan.
Menggunakan metode valuasi Dividend Discount Model (DDM), analis menetapkan target harga Rp3.400 dengan asumsi rasio P/BV wajar 1,24 kali, tingkat pengembalian ekuitas (RoE) 17,4%, dan biaya modal 15,4%. Dari level harga saat ini, target tersebut menyajikan potensi ruang kenaikan (upside) sekitar 14 persen.
Namun, daya tarik utama yang benar-benar memikat dari saham ini adalah proyeksi imbal hasil dividennya (dividend yield). JPMorgan mencatat bahwa BBRI saat ini memiliki permodalan yang melampaui kebutuhan ekspansi pertumbuhannya.
Baca Juga: DSSA Diborong Asing, BNBR Justru Dibuang
Hal ini terlihat dari Rasio Kecukupan Modal (CAR) perseroan yang sangat tebal di angka 22,7 persen. Ruang modal yang sangat longgar ini memungkinkan manajemen untuk secara leluasa mempertahankan rasio pembayaran dividen (payout ratio) di level maksimum, yakni sekitar 92,6 persen.
Konsekuensinya, yield dividen yang siap dibagikan kepada pemegang saham diproyeksikan berada di angka yang spektakuler untuk ukuran industri perbankan nasional. JPMorgan memproyeksikan yield dividen BBRI akan mencapai 11,3 persen pada 2026, lalu meningkat ke 12,0 persen pada 2027, dan diproyeksi menembus 13,2 persen pada 2028.
Karakteristik sebagai saham dividend play ini memang dirancang akan membatasi laju pertumbuhan nilai buku (book value) bank.
Namun, sebagai kompensasinya, investor akan menikmati aliran kas masuk yang sangat deras setiap tahunnya. Terlebih lagi, fondasi kinerja laba bersih perseroan diproyeksi tetap solid secara berkesinambungan; dari Rp54,7 triliun pada 2026, diprediksi merangkak naik ke Rp58,3 triliun pada 2027, hingga menembus Rp64,0 triliun pada 2028 seiring dengan pertumbuhan portofolio kredit ke angka Rp1.838 triliun.
Desclaimer: artikel di atas disajikan murni sebagai sarana informasi jurnalistik serta edukasi pasar modal berdasarkan rilis laporan riset dari lembaga keuangan JPMorgan. Seluruh angka proyeksi keuangan, target harga saham, serta estimasi imbal hasil dividen bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti fluktuasi riil kondisi makroekonomi dan kinerja fundamental perseroan. Perdagangan saham mengandung risiko kerugian finansial yang signifikan. Pembaca sangat dianjurkan untuk melakukan riset secara mandiri dan mengukur profil risiko pribadi sebelum mengambil keputusan investasi.
Berita Terkait
-
Meroket Lagi, IHSG Menuju Level 6.400
-
Kebijakan Pemerintah Ini Bikin Bisnis Akar Rumput Untung, BBRI Ikutan Cuan
-
Target Harga Saham BBRI Tembus 3.400, Apa Faktor Pendukungnya?
-
IHSG Lepas Landas! Asing Borong Saham Rp360 Miliar, Target Menuju Level 6.850?
-
JPMorgan: BBRI Layak Overweight, Kualitas Aset Terus Membaik
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
Terkini
-
Siap-siap Panen Cuan! Dividen BBRI Diproyeksi Tembus 13 Persen, Minat Borong?
-
Sifat dan Karakter Shio Kambing dari Positif hingga Negatif
-
Meroket Lagi, IHSG Menuju Level 6.400
-
Chelsea Tikung Arsenal, Rekrut Morgan Rogers dengan Harga Fantastis!
-
Serangan Harimau Kembali Terjadi di Siak, Kali Ini Korbannya Pekerja Alat Berat
-
Kiamat Harga Gadget 2027? TSMC Naikkan Biaya Produksi Chip 10%, Raksasa Teknologi Mulai "Eksodus"
-
Live Malam Hari! Catat Jadwal Siaran Langsung Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
-
Antam dan Galeri 24 Koreksi, Cek Harga Jual dan Buyback Emas Hari Ini di Pegadaian
-
Sepak Terjang Nanik S. Deyang Pimpin BGN, Kini Pilih Mundur Fokus Pengobatan
-
Bukan Sekadar Transportasi, KRL Mengubah Cara Saya Melihat Perjalanan Harian