/
Jum'at, 23 September 2022 | 14:15 WIB
Ganjar Pranowo (Foto Istimewa / Dok. Suara.com/Bagaskara)

SuaraCianjur.id- Ganjor Pranowo dan Puan Maharani seolah sedang bersaing untuk mendapatkan posisi yang akan diusung dalam pemilu 2024 mendatang dari PDI Perjuangan. Kedua nama ini disebut sedang bersaing agar bisa dipilih oleh Megawati Soekarnoputri.

Tapi melihat dari elektabilitas diantara kedua nama tersebut tidak berimbang. Nama Ganjar selalu berada di posisi tiga teratas bersama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan, tapi nama Puan masih bertahan di kisaran dua persen.

Perbedaan dalam elektabilitas ini pun dikatakan oleh Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya. Dirinya menilai ada perubahan besar dari segi elektabilitas mulai pertengahan tahun 2021.

"Yang tadinya Pak Prabowo jauh sekali di peringkat satu, Mas Ganjar mulai masuk, sekarang survei-survei antara peringkat satu dan peringkat dua," jelas Yunarto, melansir dari Sapa Indonesia Malam di KompasTV, Jumat (23/9/2022).

Menurutnya ada kejadian menarik ketika nama Ganjar bisa masuk dalam posisi tiga besar.

"Ini kan menarik. Pertama kali Mas Ganjar naik itu setelah peristiwa, kita ingat, kejadian PDI Perjuangan di Jawa Tengah. Ketika kita tahu ada kejadian Mas Ganjar tidak diundang, bukan yang baru ya," sambung Yunarto.

Ganjar yang tidak mendapatkan undangan dalam forum-forum PDIP, banyak dikaitkan dengan ketidaksetujuan dari pihak internal partai dalam mengusung dirinya dalam Pilpres 2024.

Yang terjadi malah sebaliknya, ingin membuat dampak positif  terhadap elektabilitas kandidat PDIP lainnya, malah situasi tersebut membuat Ganjar diuntungkan.

"Sebetulnya Ganjar 'diuntungkan', secara tidak langsung, dengan adanya konflik partai ini. Dan memang setelah itu Ganjar dalam survei capres Charta Politika, SMRC, Indikator, berada di peringkat satu," kata Yunarto.

Baca Juga: Lawannya Bukan Kaleng-Kaleng, Ini yang Dilakukan Ketua PSSI saat Datang ke Latihan Timnas Indonesia

Elektabilitas Ganjar Pranowo kini berkisar 31,3 persen dan membuat namanya berada dalam urutan pertama. Disusul dengan nama Prabowo sebesar 24,4 persen, kemudian Anies di urutan ketiga dengan 20,6 persen.

Sementara untuk elektabilitas Puan Maharani disebutkan masih ada di kisaran dua persen saja, yang kemudian mendorong terbentuknya Dewan Kolonel dan digawangi sejumlah nama Anggota DPR RI dari Fraksi PDIP.

Nama Ganjar beberapa kali absen dalam agenda-agenda internal partainya sendiri. Terbaru adalah saat PDIP mengadakan konsolidasi pemenangan di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Bahkan Puan Maharani turut hadir di sana, sementara pemilik daerah, Ganjar Pranowo tidak hadir.

Dengan fenomena ini, maka Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menyebut Ganjar diperlakukan tidak adil oleh partainya sendiri.

"Tentu sangat tidak rasional bagi orang yang melihat ini dari jauh, Ganjar adalah Gubernur yang otoritatif bagaimana memenangkan di Jawa Tengah, Ganjar bisa hadir dalam setiap konsolidasi," terang Adi.

Bahkan Ganjar dianggap sebagai anak kos dalam partainya tersebut.

"Ganjar dianggap kemajon, mendahului, berlebihan, terutama bagi elit PDIP yang ingin Puan maju. Ini babak lanjut dari celeng versus banteng, Mas Ganjar tetap dianggap anak kos-kosan di partainya sendiri," pungkasnya.

Sumber:Suara.com

Load More