SuaraCianjur.Id- Banyak tugas yang menuntut karyawan untuk menghabiskan lebih dari sepertiga waktu mereka dalam posisi duduk di depan layar laptop, komputer, dan bahkan ponsel.
Selain itu, waktu mereka juga dihabiskan untuk duduk di kendaraan, saat makan siang dan malam, serta ketika tidur.
Namun, kebanyakan duduk dalam jangka waktu lama tanpa adanya peregangan dapat menyebabkan beberapa masalah kesehatan, termasuk masalah pada tulang belakang.
Cervical syndrome adalah rangkaian masalah kesehatan yang dihasilkan dari perubahan pada tulang belakang dan jaringan lunak di sekitarnya, yang mengakibatkan tekanan pada saraf tulang belakang dan menghasilkan rasa nyeri.
Cervical syndrome umumnya menyerang orang yang sudah berusia lanjut, dimana lebih dari 85 persen pasiennya berusia di atas 60 tahun.
Namun, penyakit ini kini semakin sering muncul pada orang yang lebih muda karena gaya hidup yang kurang bergerak, khususnya pada karyawan yang bekerja di depan layar sepanjang hari.
Gejala utama cervical syndrome adalah nyeri di bagian belakang tubuh, mulai dari leher belakang, pundak, hingga ke punggung.
Rasa nyeri tersebut akan meningkatkan ketegangan otot di bagian belakang leher, membatasi gerakan leher, serta menyebabkan gangguan seperti telinga berdengung, sakit kepala, dan penglihatan yang kabur.
Agar terhindar dari cervical syndrome, disarankan untuk memperbaiki postur tubuh saat bekerja di depan komputer. Pastikan untuk duduk dengan punggung tegak dan pandangan lurus ke depan.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Oleh-Oleh Khas Bandung yang Unik dan Masih Tradisional
Hindari posisi terlalu menyandar atau terlalu membungkuk karena hal tersebut dapat merubah struktur tulang belakang dan memicu gangguan pada tulang belakang serta saraf tulang belakang yang mengelilinginya.
Gerakan peregangan setiap dua jam sekali sangat penting dilakukan untuk menjaga tubuh tetap rileks dan terhindar dari stres.
Meskipun terlihat sepele, gerakan ini dapat membantu mencegah terjadinya cervical syndrome. Sebagian besar kasus cervical syndrome dapat diobati dengan menggunakan obat penghilang rasa sakit dan anti-inflamasi.
Terapi fisik juga bisa dilakukan untuk mengatasi gejala. Namun, jika terapi konservatif tidak memberikan hasil yang memuaskan, operasi bisa dianggap sebagai opsi terakhir. (*)
(*/Haekal)
Sumber: Instagram Neurofit Clinic
Berita Terkait
Terpopuler
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
Pilihan
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
Terkini
-
SIM D Gratis Membuka Pintu Harapan bagi Difabel Malang
-
Dompet Menangis karena Geng Pertemanan? Budaya Konsumtif Kini Makin Ngeri
-
Pesawat Tempur Rafale Tiba di Pekanbaru, Jadi Pertahanan Langit Barat Indonesia
-
Prof Elfahmi Raih 91 Persen Suara, Siap Nakhodai Itera hingga 2030
-
Siap-siap! Purbaya Mau Patuhi Perintah Prabowo Copot Dirjen Bea Cukai
-
Resmi Dirilis! Ini Daftar Harga Tiket Laga Timnas Indonesia vs Oman dan Mozambik
-
Jokowi Diajak Main Film Kolosal Dayak, Panglima Jilah Sebut Bakal Jadi Pemeran Utama
-
Buat 'Makam Reformasi', Mahasiswa UI Tutup Logo Makara dengan Kain Putih
-
Budget Pas-pasan? Ini 5 Mobil Bekas 7 Seater Paling Irit dan Murah Buat Keluarga Muda
-
Daftar Top Skor Piala Dunia Sepanjang Sejarah, Kylian Mbappe Incar Rekor Baru di 2026