/
Senin, 05 September 2022 | 11:42 WIB
renungan katolik (Fanpage Renungan Katolik)

Renungan harian (Katolik) Senin, 05 September  2022 Bersama Pater Fredy Jehadin,SVD 

===============
PEKAN BIASA XXIII

Senin, 
05 September  2022

Bersama Pater Fredy Jehadin,SVD 

===============
BACAAN PERTAMA:

1 Korintus 
5: 1 - 8

INJIL LUKAS
6: 6 - 11

Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: "Bangunlah dan berdirilah di tengah!" Maka bangunlah orang itu dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?" Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.  

Demikianlah Sabda Tuhan 

Baca Juga: Jadwal Liga Champions Pekan Ini: PSG vs Juventus, Inter vs Bayern hingga Napoli vs Liverpool

U: Terpujilah Kristus 
===============
SIRAMAN ROHANI

SENIN, 
05 SEPTEMBER 2022

RP FREDY JEHADIN, SVD
 
Tema: 
Berbuat Baik Dan Selamatkan Hidup Sesama!

Lukas 6: 6 - 11
 
Saudara-saudari… Ceritera Injil hari ini sesungguhnya mau menceriterakan sikap manusia dalam relasinya dengan sesama. Dalam masyarakat kita selalu ada dua kelompok. Ada kelompok yang selalu siap menolong sesama, ada kelompok yang mau mengancurkan sesama. Mungkin ada di antara kita yang mau bertanya: Mengapa Tuhan membiarkan orang yang menghancurkan kehidupan sesama tetap dibiarkan hidup? Jawabannya sangat sederhana, yaitu Tuhan membiarkan mereka hidup agar mereka boleh bertobat dan memperbaiki diri.
Kalau kita amati sikap Yesus terhadap orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, walaupun mereka selalu menantang Yesus, tetapi Yesus tidak pernah menolak mereka. Yesus tetap menerima dan mendengarkan pertanyaan mereka. Yesus sama sekali tidak pernah menolak dan menghancurkan mereka. Kalau Yesus merasa sangat kecewa, Ia paling menegur dan mengingatkan mereka agar bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Hari ini, dalam rumah Tuhan, orang Farisi dan ahli Taurat masih punya sikap negatip terhadap Yesus. Injil katakan bahwa ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Satu sikap yang sungguh tidak terpuji. Tubuh mereka ada dalam Bait Suci, tetapi pikiran dan hati mereka masih punya rencana jahat. Motivasi dasar ke Bait Suci pada hari Sabat, yang seharusnya mau memuji dan memuliakan Tuhan dilecehnya. Bukan lagi pujian dan kemulian yang mereka panjatkan, tetapi kejahatan dan kepura-puraan. 
Kepura-puraan mereka sudah dibaca oleh Yesus Kristus. Kini Yesus Kristus tampil dan ingatkan mereka agar mereka sadar akan apa yang seharusnya mereka buat pada hari Sabat. KataNya: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Lukas 6: 9
Yesus sama sekali tidak mempermalukan orang Farisi dan ahli Taurat di depan umum. Ia secara umum mengingatkan semua yang hadir dalam Bait suci bahwa pada hari Sabat mereka seharusnya memuji dan menghormati Tuhan. Pujian dan hormat itu diwujudkan lewat menyelamatkan dan membahagiakan orang yang sangat membutuhkan uluran tangan sesama. Bukankah Tuhan hadir dalam diri semua orang, baik yang sehat maupun yang sakit? Di saat kita menyelamatkan orang yang sangat membutuhkan bantuan kita, di saat yang sama kita sudah membahagiakan Tuhan.  

Pertanyaan untuk kita: apakah kita selalu punya sikap seperti Yesus Kristus, yang selalu siap melayani orang yang membutuhkan uluran tangan kita? Apakah kita selalu siap membahagiakan sesama kita? Atau mungkin kadang kita memiliki sikap seperti orang Farisi dan ahli Taurat, yaitu memuji dan memuliakan Tuhan dengan mulut tetapi pikiran dan hati kita menjauh dari pada Tuhan atau bahkan punya motivasi jahat untuk menghancurkan sesama?

Load More