Pidato Menhan Prabowo Subianto yang mengusulkan resolusi perdamaian Rusia-Ukraina dalam Forum International Institute for Strategic Studies (IISS) Shangri-La Dialogue di Singapura beberapa waktu lalu mendapat respons negatif dari sejumlah perwakilan negara.
Salah satunya dari Perwakilan Jerman, Johann Wadephul. Dalam responsnya, menurutnya jika damai adalah jalan terakhir maka Ukraina akan kehilangan kedaulatannya.
"Jika kita mengikuti usulanmu untuk mencapai genjatan senjata. Bukannya itu akan membuat konflik dingin yang baru di Eropa?" ucapnya.
Meski begitu, Prabowo menjawab tanggapan itu dengan mengungkapkan bahwa Indonesia sudah sangat jelas menentang invasi Rusia ke wilayah Ukraina.
"Saya hanya mengusulkan agar kita mencoba menyelesaikan konflik. Dan langkah-langkah ini telah sering dilakukan sepanjang sejarah," tegasnya.
"Saya harap teman-teman dari Eropa, tolong, jangan berpikir dalam kerangka waktu lima atau sepuluh tahun. Tapi pikirkan untuk 20 tahun ke depan," ucap Prabowo.
Tak hanya itu, ia mengemukakan bahwa Indonesia juga pernah merasakan perang dan konflik.
Sebagai Menhan Indonesia, ia hanya ingin membantu menyelesaikan masalah tersebut dan mencegah sebelum pertumpahan darah itu semakin memburuk.
"Tetapi sekali lagi, itu kembali diserahkan pada kedua belah pihak. Untuk apa ada PBB, jika bukan untuk menyelesaikan konflik."
Baca Juga: Jokowi Ketawa Dengar Pengakuan Prabowo Bikin Heboh Eropa, Pak!
Sebelumnya, Prabowo memaparkan, niat baik untuk menjadi pihak ketiga perdamaian Rusia-Ukraina.
"Dengan ini saya bermaksud, keinginan berdamai telah menjadi keingin global keingin kebebasan berekspresi, untuk keadilan sosial, untuk kebebasan berkreatifitas semua itu menjadi penting. Ini harus dan wajib bagi mereka yang memiliki kekuasaan untuk menghentikan sesuatu, harus menekankan pada nilai dan aturan menghormati Hak Asasi Manusia," ucap Prabowo seperti dikutip dari kanal Youtube The International Institute for Strategic Studies (IISS) pada Sabtu, (3/6/2023).
Secara umum pidato Prabowo menjelaskan maksud dari Indonesia yang menginginkan perdamaian dengan cara duduk bersama lalu menentukan solusi untuk kedua belah pihak.
Meski begitu, Ukraina tetap menolak akan adanya mediasi dari pihak ketiga. Ukraina tetap pada keputusannya sebagai bentuk mempertahankan kedaulatan mereka.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
Terkini
-
Lebih dari Sekadar Pace, Urban Crawl 5K Tantang Pelari Hadapi Gang Sempit hingga Tanjakan Jakarta
-
Terkejut Dengar Kabar Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran Rumah, Habiburokhman: Beliau Sahabat Saya
-
Sektor F&B Jadi Tulang Punggung Manufaktur, Intip Peluangnya di CBE 2026
-
5 Jenis Hewan yang Layak Dijadikan Kurban, Ini Ciri-cirinya
-
Selamat Jalan Legenda, James F. Sundah Pencipta Lagu Lilin Lilin Kecil Meninggal di New York
-
Modus Wisata ke Luar Negeri, Imigrasi Yogyakarta Gagalkan Tiga Pria Diduga Jemaah Haji Ilegal
-
Masjid Baiturrahman, Tempat Melepas Penat di Tengah Kesibukan Kota Semarang
-
Apakah Istri Selingkuh Wajib Diceraikan? Begini Hukumnya Menurut Islam
-
Sama-sama di KPK, Gus Yaqut Kirim Salam untuk Mensos Gus Ipul Sebelum Kembali ke Rutan
-
Nobar Film 'Pesta Babi' di Unram Dibubarkan, Wakil Rektor: Saya Hanya Menjalankan Perintah