/
Senin, 03 Oktober 2022 | 11:25 WIB
Anggota DPR RI Kang Dedi Mulyadi (YouTube)

Suara Denpasar - Masih terkait celotehan Dedi Mulyadi di kamar mandi sambil mencuci baju. Kang Dedi, begitu dia biasa disapa bercerita soal masa kecil dan keluarganya.

Terlahir dari keluarga sederhana. Dia merupakan bungsu dari sembilan bersaudara buah hati pasangan Sahlin Ahmad Suryana dan Karsiti.

Melewati masa sekolah dasar (SD) sambil mengembala kambing. Kambing tersebut adalah penjualan cincin kado sunatan pada usia lima tahun.

Saat masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), Kang Dedi sudah terbiasa full puasa saat Ramadhan. Kondisi sulit dan berat tentu harus dilalui dengan ucapan syukur. Dia terbiasa sahur dengan sambal, dan sajian kelapa tua ketika berbuka puasa.

“Makannya diperoleh dari kerja keras kami untuk buka. Ada yang kadang makan sama belalang, kadang sama belut hasil mancing di sawah, atau makan udang dari sungai," paparnya dalam video YouTube @Kang Dedi Channel seperti dikutip denpasar.suara.com, Senin (3/10/2022).

Masa kecil yang jauh dari kesan bermewah-mewah. Di tengah himpitan ekonomi, dirinya beruntung memiliki sosok ibu yang bisa mengatur perekonomian keluarga.

Jadi, di saat 1974 ketika orang jarang bisa menyekolahkan anaknya. Kang Dedi dan saudara-saudaranya beruntung bisa tetap sekolah.

"Aa tradisi kuat yang diajarkan adalah tradisi memberi,” sambungnya sambil berlinang air mata mengingat sosok ibu dan perjuangan keluarganya.

Contoh dia tentang tradisi memberi adalah setiap keluarganya memotong ayam. Sang ayah selalu meminta dirinya mengantarkan rantang lauk pauk kepada anak yatim yang bernama Herman yang rajin mengaji dan adzan di masjid.

Baca Juga: Cek Fakta: Wendy Walters Resmi Bercerai dengan Reza Arap?

“Walaupun kami hidup susah tapi rumah kami selalu disinggahi banyak orang. Ada satu malam tukang sol sepatu dari pagi sampai malam tidak laku dan tidak punya ongkos pulang.

Bapak menerimanya untuk menginap di rumah. Besoknya diberi makan dan diberi ongkos pulang,” sebutnya.

Begitu juga jika kayu bakar jualan Abah Manta tak laku, maka ayahnya akan membeli kayu bakar. Sedangkan kakak Kang Dedi yang sudah bekerja tak lupa membawakan ikan asin.

“Jadi tradisi memberi, membantu. Bukan baru di kehidupan kami. Itu adalah ajaran dari bapak. Dari kekurangan yang kami miliki, kami selalu merasa lebih sehingga selalu memberikan manfaat bagi orang lain,” tukas dia. ***

Load More